Teori “Komunikasi Hati” Jadi Senjata Baru Lawan Cyberbullying di Sekolah

0
173
Foto bersama seusai peluncuran program SIKOMHATI (Literasi Komunikasi Hati) sebagai solusi pencegahan bullying digital di SMA Negeri 1 Ngaglik, Sleman. (istimewa)

Di tengah maraknya kasus cyberbullying yang meresahkan dunia pendidikan, sebuah pendekatan revolusioner berbasis “komunikasi hati” kini tengah diuji cobakan di sekolah-sekolah DIY.

Tim peneliti UPN Veteran Yogyakarta berkolaborasi dengan Balai Tekkomdik DIY meluncurkan program SIKOMHATI (Literasi Komunikasi Hati) sebagai solusi pencegahan bullying digital.

Simulasi ketiga program ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Ngaglik, Sleman, pada Selasa (3/9/2025) dengan melibatkan 144 siswa kelas XI.

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Prof. Dr. Puji Lestari, M.Si., pencetus teori komunikasi hati yang konsisten menduduki Top 5 Scientists UPN Veteran Yogyakarta versi AD Scientific Index sejak 2021 hingga 2025. Lebih spesifik, Puji meraih peringkat 2 di UPNVY secara keseluruhan dan peringkat 1 Ilmu Sosial di FISIP dan FEB.

Prof. Puji memperkenalkan formula unik komunikasi hati yang terdiri dari lima komponen: olah pikir (mengarahkan pikiran positif), olah rasa (mengubah perasaan negatif menjadi energi positif), kelola sampah hati (membuang iri, benci, dan dendam), simpati, serta empati.

“Model yang kami temukan menunjukkan bahwa orang yang terbiasa melakukan olah pikir dan olah rasa ke arah positif akan mengarahkan sikap positif. Sikap positif akan mengarahkan perilaku positif, membentuk kebiasaan baik, dan pada akhirnya mendatangkan nasib yang baik,” jelasnya di hadapan ratusan siswa yang tampak antusias.

Sebaliknya, kata Prof. Puji, pikiran dan perasaan negatif akan menciptakan lingkaran setan menuju kebiasaan buruk dan nasib yang kurang menguntungkan.

Platform Digital Gratis untuk Semua

Yang membedakan program ini dengan pendekatan konvensional adalah integrasi teknologi digital melalui platform www.sikomhati.id. Siswa dapat mengakses materi, mengikuti asesmen, dan memantau perkembangan literasi digital mereka secara real-time.

Erick Syafriatna, S.Kom., pengembang aplikasi SIKOMHATI dari Balai Tekkomdik DIY, memandu siswa dalam menggunakan platform tersebut. Selain website, tersedia pula e-book gratis yang dapat diunduh melalui repositori UPN Veteran Yogyakarta.

Dr. Agnes Indar Etikawati, Psikolog dari Universitas Sanata Dharma, turut memaparkan fenomena bullying dan cyberbullying di kalangan remaja. Diskusi berlangsung terbuka dengan siswa menyampaikan berbagai persoalan sosial yang mereka hadapi, mulai dari kurangnya kepercayaan hingga pengaruh “circle” pertemanan.

Kepala SMA Negeri 1 Ngaglik, Yunan Helmi S., S.Pd., M.Pd., menyambut baik implementasi program ini.

“Platform SIKOMHATI tidak hanya mendukung peningkatan literasi siswa, tetapi juga memperkuat hubungan antara siswa, guru, dan tenaga kependidikan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang harmonis,” ujarnya.

Drs. Wawan, S.Pd., guru Bimbingan Konseling, mengapresiasi penggunaan teknologi dalam pendekatan literasi digital. Menurutnya, hal ini memudahkan guru BK melakukan pemantauan dan pembinaan secara langsung terhadap siswa.

Siswa: “Sangat Relevan dengan Kehidupan Kami”

Antusiasme siswa terlihat jelas selama kegiatan berlangsung. Surya, salah satu siswa peserta, menyatakan bahwa pendekatan komunikasi hati sangat relevan dengan dinamika sosial yang mereka alami sehari-hari.

Para siswa berharap program SIKOMHATI dapat terus dilaksanakan dan menjadi bagian dari kegiatan literasi rutin sekolah. Mereka yakin pendekatan ini akan mendorong budaya komunikasi yang lebih sehat dan menjadi langkah nyata menanggulangi bullying di kalangan remaja.

Yang menarik, program ini juga mengantisipasi dampak polarisasi politik di media sosial terhadap generasi muda. Prof. Puji menekankan pentingnya literasi digital komunikasi hati agar siswa tidak terprovokasi hal-hal negatif, terutama menghadapi dinamika politik bangsa yang akhir-akhir ini diwarnai ujaran kebencian di era digital.

Program SIKOMHATI merupakan bagian dari hibah penelitian Terapan DRTPM tahun 2025 dan telah diimplementasikan di berbagai sekolah SMART SCHOOL DIY.

Dengan pendekatan yang menggabungkan psikologi, teknologi, dan nilai-nilai karakter, program ini berpotensi menjadi model pencegahan cyberbullying yang dapat diadopsi secara nasional. (*)