Warga Jogja ke depan tak perlu hanya mengandalkan sirene atau informasi dari grup kampung saat banjir mengancam.
BPBD Kota Yogyakarta tengah menyiapkan sistem peringatan dini yang memungkinkan informasi bahaya banjir dikirim langsung ke telepon seluler warga.
Sistem ini dikembangkan tanpa menambah unit fisik Early Warning System (EWS). BPBD memilih mengoptimalkan 36 EWS yang sudah terpasang di sepanjang Sungai Gajah Wong, Code, Belik, Winongo, Buntung, hingga kawasan hulu Sungai Code di Ngentak, Sleman.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta Nur Hidayat mengatakan, selama ini informasi dari alat pengukur ketinggian air diterima Pusdalops PB, kemudian diteruskan melalui radio handy talky (HT) kepada Kampung Tangguh Bencana (KTB).
“Tahun ini kami tidak akan menambah EWS dan mengoptimalkan yang ada. Tapi tingkat cakupan informasi terkait peringatan dini banjir akan diperluas. Tidak hanya lewat komunikasi radio, tapi juga lewat jaringan seluler,” ujar Nur saat simulasi EWS di bantaran Sungai Gajah Wong, Kamis (10/9/2026).
Ke depan, data telemetri dan debit air dari wilayah hulu akan dikembangkan agar dapat memicu notifikasi ke ponsel warga. Penyebaran dilakukan melalui grup komunikasi KTB hingga sistem yang memungkinkan pesan dikirim secara individu.
Ketua Tim Kerja Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BPBD Kota Yogyakarta Grezia Eleganza Nur Pradani mengatakan sistem tersebut masih dalam tahap pengembangan bersama instansi terkait dan penyedia jaringan seluler.
“Jadi masyarakat yang pegang handphone, bisa ternotifikasi peringatan dini banjir. Saat ini masih persiapan dan dalam perjalanan ke arah sana,” katanya.
Namun, peringatan cepat tak akan cukup jika warga tak tahu harus berbuat apa. Karena itu, BPBD juga terus memperkuat kesiapsiagaan melalui 169 KTB yang tersebar di seluruh kampung di Kota Yogyakarta.
“Karena yang bisa menyelamatkan itu diri kita sendiri,” kata Nur. (*)














