Komunikasi Hati Diperkenalkan untuk Cegah Cyberbullying dan Perkuat Karakter Siswa Gunungkidul

0
3
Guru Besar Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta, Prof. Dr. Puji Lestari, S.I.P., M.Si., menyampaikan hasil riset Teori Komunikasi Hati kepada siswa dan guru pendamping SMKN 2 Gedangsari, Gunungkidul, Rabu (7/10/2026). Pendekatan ini diharapkan memperkuat empati, pengelolaan emosi, dan karakter siswa dalam menghadapi tantangan pergaulan di era digital. (istimewa)

Tantangan pergaulan di era digital tidak hanya menuntut siswa cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu mengendalikan emosi, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab dalam hubungan sosial. Untuk menjawab tantangan tersebut, Balai Pendidikan Menengah (Dikmen) Kabupaten Gunungkidul menyosialisasikan pendekatan Teori Komunikasi Hati di SMKN 2 Gedangsari.

Pendekatan berbasis hasil riset ini mengintegrasikan olah pikir, olah rasa, empati, dan kedamaian hati untuk membantu siswa menerapkan nilai-nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat berinteraksi di media sosial dan menghadapi konflik pertemanan.

Guru Besar Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, Prof. Dr. Puji Lestari, S.I.P., M.Si., yang hadir sebagai pemateri, menekankan pentingnya Komunikasi Hati untuk melatih siswa berpikir bijak sebelum mengunggah konten di media sosial, mengendalikan emosi, serta mencegah cyberbullying.

“Penerapan hasil penelitian Komunikasi Hati diarahkan untuk memperkuat kemampuan siswa dalam memahami persoalan, mengelola perasaan, menghargai orang lain, serta membangun hubungan sosial yang sehat,” papar Prof. Puji.

Pemaparan hasil riset tersebut berlangsung dalam kegiatan sosialisasi di SMKN 2 Gedangsari, Rabu (7/10/2026), mulai pukul 12.30 WIB. Kegiatan diikuti 40 siswa dan 10 guru pendamping.

Acara dibuka Kepala Seksi Layanan Balai Dikmen Gunungkidul, Suryanto, S.Pd., M.Pd., dan dihadiri Anggota Komisi D DPRD DIY, Demas Kursiswanto, A.Md. Suryanto dan Demas sepakat bahwa keberhasilan lulusan tidak cukup diukur dari kompetensi akademik dan teknis, tetapi juga dari integritas, kedisiplinan, serta kesiapan mental menghadapi dunia kerja.

Persoalan Karakter di Lingkungan Sekolah

Diskusi interaktif dalam kegiatan tersebut mengungkap sejumlah tantangan yang dihadapi warga sekolah dalam menerapkan nilai-nilai karakter.

Guru SMKN 2 Gedangsari, Rodri, menyampaikan fenomena siswa yang kerap merasa dikucilkan meskipun situasi sebenarnya tidak selalu demikian. Persoalan semacam ini ditangani secara bertahap dengan melibatkan wali kelas, Bimbingan Konseling (BK), hingga Wakil Kepala Kesiswaan.

Sekolah juga menerapkan pembiasaan pagi untuk melatih tanggung jawab siswa. Namun, tantangan penerapan karakter tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarteman, tetapi juga muncul dalam aktivitas belajar bersama.

Dari sudut pandang siswa, Bishara Mandiri mengakui bahwa kemandirian dan rasa percaya diri menjadi aspek yang paling sulit diterapkan di antara lima nilai utama karakter, yakni religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas.

Siswa lainnya menyoroti persoalan kurangnya partisipasi dalam kerja kelompok, termasuk praktik “titip nama” ketika ada anggota yang tidak berkontribusi secara memadai.

Menanggapi berbagai persoalan tersebut, Kepala SMKN 2 Gedangsari, Sapto Budiyono, S.Pd., menjelaskan bahwa sekolah berupaya mengasah empati dan gotong royong melalui pengalaman langsung. Salah satunya melalui kegiatan bakti sosial tahunan ke panti asuhan dalam rangka ulang tahun sekolah.

“Dari empati itulah kita berharap anak-anak tergugah hatinya. Kita tunjukkan bahwa ada teman-teman yang memiliki keterbatasan tetapi tetap semangat untuk berkarya,” ujar Sapto.

Melengkapi Pembiasaan Karakter

Penerapan Teori Komunikasi Hati diharapkan melengkapi berbagai pembiasaan yang telah berjalan di SMKN 2 Gedangsari. Kegiatan tersebut antara lain apel pagi, gerakan 5S yang mencakup Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun, serta literasi Al-Qur’an.

Melalui kombinasi pendekatan komunikasi berbasis empati dan pembiasaan di lingkungan sekolah, kegiatan ini diharapkan mendukung terciptanya ekosistem pendidikan yang responsif dan inklusif.

Upaya tersebut sekaligus diarahkan untuk mempersiapkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik dan teknis, tetapi juga matang secara karakter sehingga lebih siap menghadapi dunia industri. (*)