
Sebastiana Bwarleling, biarawati Katolik asal Kepulauan Tanimbar, Maluku, memilih Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta sebagai tempat menempuh pendidikan D3 Radiologi. Kehadirannya menjadi salah satu gambaran keberagaman mahasiswa baru di kampus yang berada di bawah naungan ‘Aisyiyah tersebut.
Sebastiana merupakan anggota Kongregasi Suster-Suster Dina Santo Yoseph (DSY) Manado. Ia dikirim untuk menempuh pendidikan radiologi guna memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di Rumah Sakit Dharma Ibu Ternate, Maluku Utara, yang dikelola kongregasinya.
“Saya memilih kuliah di Unisa Yogyakarta karena pertama, di bidang pendidikan kesehatan itu unggul. Yang kedua, sarana prasarana yang sangat memadai. Karena mengambil jurusan radiologi, dan sebelum itu saya sudah mencari tempat di Jogja dan Unisa Yogyakarta punya fasilitas yang sangat memadai untuk mengembangkan minat dan bakat,” ujar Sebastiana saat pembukaan Masa Ta’aruf (Mataf) Unisa Yogyakarta, Kamis (10/9/2026).
Sebastiana saat ini menetap di Biara DSY Pringgolayan, Gejayan, Yogyakarta. Ia telah berada di Yogyakarta sekitar tiga bulan untuk mempersiapkan masa studinya.
Selain mempertimbangkan kualitas pendidikan kesehatan dan sarana prasarana, Sebastiana mengatakan dirinya mendapat mandat dari pimpinan Kongregasi Suster-Suster Dina Santo Yoseph yang berpusat di Manado.
“Saya memilih Unisa Yogyakarta juga karena mempunyai iman yang lebih dan bertoleransi tinggi di tempat ini. Dan juga terbuka bagi siapa saja, terlebih khusus bagi saya seorang biarawati juga diterima dengan baik di tempat ini,” katanya.
Pengalaman berinteraksi dengan masyarakat dari latar belakang berbeda membuat Sebastiana tidak mengalami kesulitan berarti untuk beradaptasi. Sebelum kuliah di Yogyakarta, ia bekerja di rumah sakit di Ternate yang mayoritas karyawannya beragama Islam.
“Kalau saya pribadi mau bersosialisasi sudah terbiasa. Di Ternate, kami punya mayoritas karyawannya masih dibilang 90 persen Islam. Jadi untuk mau beradaptasi atau mau bersosialisasi dengan yang lain saya sudah terbiasa,” ungkapnya.
Tantangan yang dirasakannya justru berkaitan dengan perbedaan usia. Sebagai anggota kongregasi sejak 2015, Sebastiana sempat merasa canggung ketika harus berbaur dengan mahasiswa baru yang sebagian besar baru lulus SMA.
“Pas mulai dari pra Mataf, itu kelompok baru bagi saya, semua masih mau dibilang adik-adik yang baru tamat SMA. Kalau saya kan masuk biara sudah dari 2015, jadi untuk membaur dengan teman-teman ini sebenarnya rasa canggung ada. Tapi karena teman-teman yang lain juga menerima saya dengan baik, kami membangun komunitas seperti kelompok saya dari Khafilah 37,” tuturnya.
Disiapkan untuk Kebutuhan Rumah Sakit
Pendidikan Sebastiana di Unisa Yogyakarta selama beberapa tahun ke depan sepenuhnya ditanggung Rumah Sakit Dharma Ibu Ternate. Pilihan program studi D3 Radiologi juga bukan semata-mata keputusan pribadi, melainkan bagian dari kebutuhan pengembangan tenaga kesehatan di rumah sakit tersebut.
“Memilih jurusan itu bukan pilihan saya, tetapi karena kebutuhan Kongregasi kami. Di rumah sakit kami diwajibkan untuk setiap unit itu harus dipegang oleh para suster. Di apoteker dan lain-lain sudah ada, tapi di radiologi belum ada,” jelasnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Sebastiana diharapkan kembali ke Ternate untuk mengembangkan layanan kesehatan di rumah sakit yang dikelola kongregasinya.
“Jadi saya diutus untuk berkuliah radiologi untuk bisa kembali mengembangkan rumah sakit kami yang ada di Ternate,” katanya.
Ia berharap Unisa Yogyakarta dapat terus mempertahankan sekaligus mengembangkan lingkungan pendidikan yang terbuka terhadap keberagaman.
“Harapan saya semoga hal baik yang telah dikembangkan oleh universitas bisa ke depannya dikembangkan lebih baik lagi. Walaupun saya dari agama lain, tetapi saya merasa bahwa tempat ini mempunyai toleransi yang tinggi,” pungkasnya.
Puluhan Mahasiswa Non-Muslim
Kehadiran Sebastiana menjadi bagian dari keberagaman mahasiswa baru Unisa Yogyakarta tahun akademik 2026/2027.
Rektor Unisa Yogyakarta, Warsiti, menyampaikan dari 14.872 pendaftar, sebanyak 2.878 mahasiswa baru diterima. Mereka berasal dari berbagai daerah, budaya, dan agama.
Pada tahun ini, Unisa Yogyakarta mencatat terdapat puluhan mahasiswa non-Muslim dari kalangan Hindu, Katolik, dan Kristen. Para mahasiswa baru tersebut berasal dari 34 provinsi di Indonesia serta empat negara, yakni Palestina, Timor Leste, Nigeria, dan Thailand.
Dari total mahasiswa baru itu, sebanyak 2.326 merupakan perempuan dan 504 laki-laki. Mereka tersebar pada berbagai jenjang dan jalur pendidikan, mulai Diploma dan Sarjana, Pascasarjana, Profesi, hingga Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).
Unisa Yogyakarta juga menyalurkan dana beasiswa sebesar Rp18,3 miliar kepada 596 mahasiswa.
Warsiti menegaskan keberagaman tersebut merupakan kekayaan yang perlu dijaga dan dikembangkan bersama. Perbedaan daerah asal, budaya, bahasa, maupun latar belakang, menurutnya, bukan penghalang untuk membangun lingkungan akademik yang saling menghormati.
Mahasiswa didorong untuk belajar dan memperluas pengetahuan, mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, serta tumbuh dengan integritas dan toleransi. Pada akhirnya, ilmu dan profesi yang ditekuni diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Mataf Jadi Ruang Kembangkan Potensi
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, mengatakan Mataf Unisa Yogyakarta bukan sekadar momentum bagi mahasiswa baru untuk saling mengenal. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengenali dan mengembangkan potensi selama menjalani pendidikan.
“Jadi selain kalian akan menempuh ilmu yang kalian minati di Unisa Yogyakarta, tentunya potensi yang kalian punya itu juga akan dikembangkan di Unisa Yogyakarta melalui berbagai macam program-program yang ada. Jangan sampai ada yang tertinggal. No one left behind,” ujar Salmah.
Menurutnya, prinsip tersebut juga berlaku dalam akses mahasiswa terhadap berbagai informasi dan fasilitas yang tersedia di kampus, termasuk informasi beasiswa maupun kegiatan kemahasiswaan.
“Tidak boleh ada satu pun yang tertinggal. Sehingga Unisa Yogyakarta menyediakan itu semuanya, fasilitas yang ada untuk menjadikan kalian semua kelak menjadi generasi yang hebat, generasi yang berkualitas, tidak hanya pintar, tetapi juga berkarakter, berakhlak mulia, dan tentunya peduli terhadap sesama,” katanya.
Salmah menambahkan berbagai program kemahasiswaan yang diperkenalkan selama Mataf merupakan bagian dari upaya menggali sekaligus mengembangkan potensi mahasiswa. Program tersebut mencakup kegiatan sesuai minat dan bakat, termasuk bela diri melalui Tapak Suci. (*)













