
Di tangan sebagian anak muda, batik tak hanya menjadi busana seremonial, tetapi juga ruang refleksi tentang jati diri dan keberlanjutan nilai-nilai budaya.
Salah satunya adalah Marsha Widodo, seorang pegiat budaya muda yang menjadi pembicara dalam seminar “Batik: Penghubung Cerita & Nilai Antar Generasi” di Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, Jumat (31/10/2025).
Dalam forum yang digelar oleh Program Doktor Kajian Seni dan Masyarakat USD bekerja sama dengan Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) Sekar Jagad itu, Marsha menyuarakan pentingnya menghadirkan batik dalam keseharian generasi muda — bukan sekadar dalam bentuk pakaian formal, tetapi juga sebagai identitas hidup yang terus bercerita.
“Anak muda sekarang banyak yang mengenal batik hanya dari sisi fesyen. Padahal, setiap motif punya cerita dan filosofi yang bisa memperkaya identitas kita,” ujar Marsha.
Ia menilai, batik dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini jika dikemas dengan cara yang relevan.
“Batik bisa hadir di berbagai medium kreatif — dari konten digital, desain interior, hingga kolaborasi lintas bidang seni. Yang penting, semangatnya adalah meneruskan nilai, bukan sekadar memakai,” katanya.
Menurutnya, pelestarian batik bukan perkara menjaga bentuk, tetapi menjaga makna.
“Batik adalah bahasa visual yang penuh simbol. Ketika kita memakainya dengan sadar, kita sebenarnya sedang menyambung cerita para leluhur,” lanjutnya.
Warisan yang Terus Hidup
Seminar yang digelar di Ruang Driyarkara USD ini menghadirkan pembicara lintas generasi: Dr. Gregorius Budi Subanar, SJ (keynote speaker), desainer batik Afif Syakur, perwakilan PPBI Sekar Jagad Karina Rima M., serta moderator Danie Prakosa.
Diskusi berlangsung hangat, menelusuri perjalanan batik dari sisi spiritual, sosial, hingga tantangan ekologis.
Dalam paparannya, Dr. Gregorius Budi Subanar, SJ — akrab disapa Romo Banar — mengajak peserta untuk melihat batik bukan sekadar karya visual, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat.
“Beberapa hari yang lalu ada Kirab Trunojoyo. Semua penarinya laki-laki, dan mereka mengenakan kain batik. Ini contoh bahwa batik juga bagian dari ekspresi kegagahan dan cinta,” ujarnya.
Romo Banar juga menyoroti peran pelaku di balik layar kesenian yang kerap terlupakan.
“Biasanya kita hanya memperhatikan yang tampil di atas panggung, padahal yang bekerja di balik panggung juga penting. Di situ nilai budaya itu hidup,” katanya.
Ia menegaskan, dinamika budaya memang terus bergerak. “Dulu batik dan kebaya dipakai setiap hari, kini hanya pada acara khusus. Itu wajar, tapi nilai-nilainya jangan hilang. Batik bukan benda mati, tapi simbol yang hidup dan terus bisa diolah sesuai konteksnya,” tegasnya.
Bagi Romo Banar, cinta terhadap batik bahkan melintasi batas negara. Ia bercerita tentang mahasiswanya di Jerman yang mengirim canting dan malam ke Dresden untuk kegiatan membatik.
“Kerinduan terhadap batik ini lintas negara. Identitas itu dibawa, dihidupi,” ujarnya.
“Budaya tidak pernah berhenti. Ia menyesuaikan diri dengan zaman, tapi selalu menyimpan inti yang sama: rasa hormat terhadap proses dan nilai,” lanjut Romo Banar.
Dari Pekalongan ke Yogyakarta
Sementara itu, Afif Syakur — desainer batik dan pendiri Apip’s Batik Yogyakarta — berbagi kisah tentang perjalanan batik dari tangan para perajin. Sebagai generasi keempat pengrajin batik asal Pekalongan, ia menyebut batik sebagai hasil pencarian makna hidup.
“Ketika seorang perajin membatik, ia sedang menulis jalan hidupnya sendiri,” ujarnya.
Afif menolak pandangan bahwa batik hanyalah komoditas ekonomi.
“Kalau batik hanya dijual seperti tekstil, maka maknanya hilang. Saya selalu bilang kepada pelanggan: jangan hanya membeli batik, tapi pesanlah batik. Dengan memesan, ada hubungan batin antara pembatik dan pemakai,” tutur Afif.
Ia mengingatkan bahwa setiap motif batik memiliki filosofi mendalam — dari kelahiran, khitanan, pernikahan, hingga kematian.
“Batik merekam seluruh siklus kehidupan manusia Jawa,” katanya.
Namun, Afif juga menyoroti ancaman batik printing yang marak di pasaran.
“Itu bukan batik, melainkan tekstil bermotif batik. Tidak ada tangan pembatik di sana,” ujarnya menegaskan.
Tantangan Sosial dan Ekologis
Dari sisi sosial dan lingkungan, Karina Rima M. dari PPBI Sekar Jagad mengingatkan bahwa keindahan batik menyimpan persoalan yang kompleks.
“Industri batik menyerap sekitar 200 ribu tenaga kerja di 47 ribu unit usaha, sebagian besar UKM. Tapi di balik angka itu ada tiga masalah besar: limbah, upah, dan pemberdayaan,” ujarnya.
Ia mengungkap temuan di Pekalongan: “Di sana ada jargon yang ironis — ‘kalau sungainya hitam, berarti batiknya laku’. Artinya, ketika sungai tercemar limbah pewarna, ekonomi dianggap sedang bagus. Ini paradoks.”
Selain pencemaran, Karina juga menyoroti ketimpangan upah antara pembatik laki-laki dan perempuan.
“Pekerja laki-laki biasanya di bagian cap, sedangkan perempuan di tulis. Karya mereka lebih halus, tapi penghasilannya justru lebih kecil,” katanya.
Sebagai langkah kecil, Karina dan komunitasnya mengembangkan instalasi pengolahan air limbah mini bekerja sama dengan LSM Dian Desa.
“Kami ingin membuktikan bahwa batik bisa berkelanjutan tanpa merusak lingkungan,” ujarnya.
Dari forum ini, tampak satu benang merah: batik bukan hanya kain, tetapi narasi panjang yang mengikat identitas bangsa. Bagi generasi muda seperti Marsha, batik menjadi ruang perjumpaan antara nilai lama dan semangat baru. (*)













