
Konsumsi daging ayam masyarakat Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara Asia Tenggara. Di tengah rendahnya konsumsi protein hewani tersebut, peternak juga menghadapi tingginya biaya produksi akibat kenaikan harga pakan dan jagung.
Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) Singgih Januratmoko mengatakan konsumsi daging ayam di Indonesia baru mencapai 14–15 kilogram per kapita per tahun. Sementara itu, konsumsi telur mencapai 23 kilogram per kapita per tahun. Angka konsumsi daging ayam tersebut masih di bawah Malaysia yang mencapai 25–30 kilogram per kapita per tahun.
“Kita paling rendah secara di Asia Tenggara, kalah dengan Malaysia, Vietnam, dan lainnya. Melalui edukasi dan kampanye mandiri ini, kita ingin membangun kesadaran bahwa ayam dan telur adalah sumber protein hewani paling terjangkau untuk meningkatkan kualitas kecerdasan generasi masa depan,” ujar Singgih pada Minggu (18/10/2026) dalam kegiatan Chicken and Egg Run 2026 di Yogyakarta, yang diikuti hampir 3.000 peserta.
Selain mendorong peningkatan konsumsi, Singgih menyoroti tingginya harga pokok produksi peternak akibat kenaikan harga pakan dan jagung. PINSAR mendesak pemerintah mengintervensi persoalan pasokan dan harga jagung agar biaya produksi dapat ditekan.
Menurutnya, harga pakan yang lebih terjangkau dapat membantu menurunkan biaya produksi sehingga harga ayam dan telur di tingkat konsumen semakin terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat.
Dari sisi pemerintah, Staf Ahli Menteri Koperasi Bidang Kebijakan Publik Koko Haryono mendorong penguatan ekosistem perunggasan dari hulu hingga hilir dengan melibatkan peternak dalam rantai pasok Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
“Kalau seandainya Koperasi Merah Putih ini sudah berjalan, pastinya kita harap peternak-peternak itu bisa menjadi bagian dari ekosistem bisnisnya. Jadi koperasi bisa meng-offtake hasil ternaknya, baik ayam maupun telur, untuk dipasarkan ke wilayah sekitar Koperasi Merah Putih,” ujar Koko.
Ia menjelaskan, pengintegrasian bisnis tersebut memiliki payung hukum berupa Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 82 Tahun 2026 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Namun, keterlibatan peternak dalam ekosistem koperasi belum sepenuhnya berjalan karena sebagian koperasi masih dalam tahap pembangunan fisik.
“Sudah sebagian berjalan, tetapi sekarang masih dalam proses pembangunan fisik. Saat ini kurang lebih ada 17 ribu lebih yang sudah jadi 100 persen. Tinggal kita dorong bagaimana ekosistem bisnis Koperasi Merah Putih ini bisa berjalan dengan menggandeng semua produsen yang ada di desa,” tambahnya.
Koko berharap kemitraan antara pemerintah dan PINSAR dapat mendukung program strategis nasional, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG), sekaligus memperkuat perekonomian pedesaan.
Sementara itu, Chicken and Egg Run 2026 mempertandingkan kategori lari 2,5 kilometer, 5 kilometer, dan 10 kilometer. Selain mengampanyekan konsumsi protein hewani, kegiatan tersebut diharapkan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal dan sektor pariwisata Yogyakarta. (*)













