Museum Anaia & Alisha, Warisan untuk Anak Cucu Sekaligus Edukasi untuk Masyarakat

    0
    1
    Petugas Museum Anaia & Alisha atau Museum Nusantara, menunjukkan koleksi di museum di kawasan Kaliurang, Pakem, Sleman. (zukhronnee muhammad)

    Udara dingin lereng Gunung Merapi terasa begitu khas di Kaliurang, Pakem, Sleman. Di kawasan Jalan Kesehatan, sekitar kilometer 22, sebuah bangunan enam lantai berdiri di atas lahan sekitar 4.000 meter persegi.

    Dari luar, Museum Anaia & Alisha atau Museum Nusantara tampak seperti bangunan besar yang dirancang untuk menjadi destinasi wisata. Namun, bagi pendirinya, Arman Yahya, museum ini memiliki arti yang jauh lebih personal.

    Pria 71 tahun itu tidak membangun museum semata-mata untuk mengejar keuntungan. Ia ingin meninggalkan warisan yang bisa terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi berikutnya.

    Nama Anaia dan Alisha yang disematkan pada museum pun bukan tanpa alasan. Keduanya merupakan nama cucu Arman yang masih belia.

    “Saya dedikasikan museum ini untuk ibu saya, ibu dari istri saya, dan cucu-cucu saya. Kalau warisan diberikan ke anak, bisa saja nanti dijual. Tapi kalau diberikan ke cucu, anak akan ikut menjaga demi cucu tersebut. Minimal kita bisa memperpanjang nilai warisan ini satu generasi lagi,” kata Arman saat ditemui pada Selasa (6/10/2026).

    Dari gagasan itulah museum yang memadukan edukasi sejarah, rempah, busana, dan budaya Nusantara tersebut dibangun. Namun, ada satu keputusan Arman yang membuat museum ini berbeda dari banyak usaha wisata di kawasan Kaliurang.

    Ia memilih tidak membangun penginapan.

    Padahal, lokasinya berada di kawasan wisata yang dipenuhi usaha akomodasi. Bagi Arman, keputusan tersebut bukan semata persoalan bisnis, melainkan bagian dari upayanya menjaga hubungan dengan warga sekitar.

    Sebelum menentukan konsep pengelolaan museum, Arman mengaku terlebih dahulu sowan dan menyerap aspirasi masyarakat setempat. Dari pertemuan itu, ia mengetahui warga tidak menginginkan munculnya penginapan baru yang berpotensi menjadi pesaing usaha mereka.

    “Alasan pertama, warga sekitar tidak ingin ada penginapan baru agar tidak menyaingi usaha mereka. Alasan kedua, di usia sekarang, saya ingin fokus mengelola museum edukasi yang beroperasi secara wajar dan tutup teratur setiap jam 5 sore. Saya ingin menikmati bisnis yang membuat hati tenang dan gembira,” ujarnya.

    Bagi Arman, keputusan tersebut juga menjadi cara menikmati masa hidup dengan pilihan bisnis yang lebih tenang. Ia tidak ingin museum yang dibangunnya justru menjadi sumber persaingan baru bagi masyarakat yang lebih dahulu menggantungkan hidup dari aktivitas wisata Kaliurang.

    Konsekuensinya, museum harus memiliki cara lain untuk menopang biaya operasionalnya.

    Arman memilih menerapkan strategi subsidi silang melalui sektor restoran atau food and beverage. Dengan cara tersebut, pengunjung tidak harus membayar tiket terlalu mahal untuk menikmati ruang-ruang edukasi di dalam museum.

    Tiket masuk Galeri Museum Rempah dipatok Rp50.000, sedangkan area Museum Busana Nusantara Rp40.000.

    Menyusuri Jejak Rempah

    Memasuki ruang pamer, perjalanan pengunjung dimulai melalui dua galeri utama. Salah satunya membawa pengunjung menyusuri sejarah rempah Nusantara.

    Galeri Museum Rempah mengajak pengunjung melihat bagaimana pala, cengkeh, jahe, kayu manis, hingga lada tidak hanya menjadi bagian dari dapur masyarakat, tetapi juga komoditas yang ikut mengubah perjalanan sejarah dunia.

    Pala dan cengkeh dari Maluku menjadi salah satu bagian yang ditonjolkan. Pengunjung tidak hanya melihat representasi visualnya, tetapi juga dapat mengenali tanaman rempah melalui koleksi yang ditanam di area terbuka, termasuk taman dan rooftop.

    Di dalam galeri, kisah rempah kemudian diperluas menjadi cerita tentang perdagangan dan peradaban. Pelayaran Laksamana Cheng Ho, miniatur kapal dagang Nusantara, relief Candi Borobudur hingga kemunculan kongsi dagang VOC menjadi bagian dari narasi yang ditampilkan.

    Sejarah perdagangan tersebut bahkan dikaitkan dengan perkembangan sistem pasar saham modern di Eropa pada 1602.

    Museum juga membawa pengunjung melihat sisi lain dari perubahan pemanfaatan alam. Ruang edukasi tentang satwa langka menampilkan sejumlah hewan yang menghadapi ancaman kepunahan, seperti gajah, harimau Jawa, tapir, dan orang utan.

    Pesannya tidak berhenti pada sejarah rempah. Ada pula persoalan lingkungan dan perubahan fungsi hutan yang ikut menjadi bagian dari cerita.

    Ketika Busana Menjadi Cerita tentang Perempuan

    Galeri kedua membawa pengunjung pada perjalanan berbeda.

    Museum Busana Nusantara menampilkan kekayaan wastra dan pakaian adat dari berbagai daerah Indonesia. Galeri ini dikembangkan melalui kerja sama dengan Yayasan Griya Putri Citra Indonesia dan ajang Pemilihan Putri Citra Indonesia.

    Beragam kain dan busana tradisional ditampilkan, termasuk kain songket dengan nilai hingga belasan juta rupiah serta batik tulis karya perajin lokal.

    Tetapi busana di ruang tersebut tidak hanya diperlakukan sebagai benda untuk dilihat.

    Konsep pamerannya juga membawa pesan tentang inner beauty, kesopanan, budi pekerti, akhlak, dan kehormatan perempuan dalam menjaga nilai budaya.

    Dengan begitu, pakaian tradisional ditempatkan bukan sekadar sebagai produk estetika, melainkan bagian dari nilai dan identitas yang diwariskan antargenerasi.

    Museum yang Ingin Dihidupkan

    Di luar ruang pamer, Museum Anaia & Alisha dilengkapi berbagai fasilitas pendukung. Ada ruang pertemuan atau ballroom, restoran Nusantara, area bermain anak, hingga ruang terbuka di lantai teratas.

    Dari rooftop, pengunjung dapat melihat panorama Gunung Merapi dan perbukitan hijau Kaliurang. Lanskap dengan rumput sintetis serta bangunan kaca melingkar menjadi salah satu ruang yang memungkinkan pengunjung menikmati museum sekaligus suasana alam pegunungan.

    Bangunan tersebut juga dirancang dengan konsep arsitektur tahan gempa, dilengkapi lift, ruang pamer berpendingin udara, serta pemandu.

    Namun, pada akhirnya, kemegahan bangunan bukanlah hal yang ingin ditinggalkan Arman sebagai pesan utama.

    Ia ingin museum tersebut menjadi tempat bertemunya benda, sejarah, pengetahuan, dan nilai yang dapat terus dikenalkan kepada generasi baru.

    Sebab bagi Arman, warisan tidak selalu berarti tanah, bangunan, atau benda bernilai ekonomi. Warisan juga bisa berupa ingatan tentang dari mana sebuah bangsa berasal dan nilai apa yang layak diteruskan.

    Museum Anaia & Alisha pun dibangun dengan harapan sederhana: agar cerita tentang Nusantara tidak berhenti sebagai kenangan masa lalu, tetapi tetap hidup dan dapat diwariskan kepada anak cucu dengan penuh cinta. (*)