
Hasil riset perguruan tinggi tentang Teori Komunikasi Hati mulai dibawa langsung ke lingkungan sekolah untuk membantu siswa menghadapi berbagai persoalan karakter dan relasi sosial, termasuk perundungan, cyberbullying, konflik pertemanan dan keluarga, hingga tekanan di ruang digital.
Prof. Dr. Puji Lestari, S.IP., M.Si., Guru Besar FISIP Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta, memperkenalkan pendekatan tersebut kepada sekitar 40 siswa SMKN 1 Girisubo, Gunungkidul, bersama guru pendamping.
“Membangun karakter tidak bisa instan. Karakter harus dibangun sejak dini bersama lingkungan yang relevan,” papar Puji di Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Puji memberikan materi dalam kegiatan Sosialisasi dan Penguatan Pendidikan Karakter yang digelar Balai Pendidikan Menengah Kabupaten Gunungkidul di SMKN 1 Girisubo, Kamis (10/9/2026).
Menurut Puji, hasil penelitian semestinya tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah maupun bahan ajar di perguruan tinggi. Riset perlu dihilirisasikan agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Siswa, kata dia, masih memiliki kesempatan besar untuk membangun karakter demi masa depan. Hal terpenting adalah kemauan untuk membangun pikiran dan hati dengan penuh empati.
Teori Komunikasi Hati yang dikembangkan Puji menempatkan pembentukan karakter sebagai proses yang dimulai dari kemampuan mengelola pikiran, perasaan, dan hubungan dengan orang lain. Pendekatan tersebut memiliki empat unsur utama, yakni olah pikir, olah rasa, empati, dan kedamaian hati.
Olah pikir diarahkan untuk mengubah pikiran negatif menjadi hal-hal positif. Sementara olah rasa berkaitan dengan kemampuan mengenali dan mengendalikan emosi agar tidak berkembang menjadi perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
“Empati mengajarkan seseorang memahami perasaan orang lain. Sedangkan kedamaian hati diharapkan membentuk pribadi yang mampu menghadapi tekanan hidup dengan lebih tenang, menyelesaikan konflik secara bijaksana, serta tidak mudah bertindak impulsif,” jelasnya.
Menurut Puji, pendekatan tersebut relevan dengan berbagai persoalan yang dihadapi remaja saat ini. Selain perundungan dan cyberbullying, persoalan tersebut mencakup konflik pertemanan dan keluarga serta berbagai masalah yang muncul di ruang digital.
Karakter, lanjut dia, bukan sesuatu yang hanya ditampilkan ketika seseorang sedang dinilai. Karakter tercermin dari bagaimana seseorang berpikir, berbicara, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, pembentukan karakter harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pembiasaan yang melibatkan pikiran, perasaan, dan tindakan.
“Kita tidak bisa mengendalikan bagaimana orang lain merespons kita. Tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita tetap mampu mengendalikan diri dan memilih untuk tetap merespons orang lain dengan berbuat baik,” paparnya.
Penyampaian materi di SMKN 1 Girisubo tidak dilakukan satu arah. Puji mengajak siswa berdialog mengenai pengalaman yang mereka hadapi sehari-hari. Para siswa juga diajak merefleksikan karakter yang masih sulit mereka terapkan, seperti kemandirian, kedisiplinan, hingga konsistensi menjalankan nilai-nilai religius.
Bagi Puji, kesadaran bahwa seseorang masih perlu memperbaiki diri justru menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter.
Siswa kemudian diperkenalkan pada prinsip sederhana Komunikasi Hati, terutama ketika berinteraksi di ruang digital, seperti berpikir sebelum bereaksi, mengenali emosi sebelum bertindak, serta bertanya kepada diri sendiri.
“Bagaimana rasanya menjadi dia?,” tandasnya.
Pendekatan tersebut diharapkan membantu siswa membangun komunikasi yang santun sekaligus mencegah konflik, ujaran kebencian, dan perundungan.
Kepala SMKN 1 Girisubo, Nugroho Wibowo, S.Pd., M.Pd., menyambut baik kegiatan tersebut. Sekolah yang berada di kawasan pesisir dan perbatasan itu menghadapi siswa dengan beragam latar belakang dan tantangan, mulai dari kondisi keluarga hingga persoalan kesehatan mental.
Sekolah pun terus membangun daya resiliensi siswa melalui berbagai program, salah satunya ULAM PANJU (Unit Layanan Peningkatan Kesehatan Jiwa) bersama sejumlah mitra.
“Diharapkan materi Komunikasi Hati dapat menjadi bekal bagi siswa dan guru untuk mengenali potensi diri, membangun kepercayaan diri, serta memiliki karakter kuat dalam menghadapi tantangan kehidupan dan dunia kerja,” ungkapnya.
Pihak sekolah bahkan telah meminta Puji untuk kembali memberikan penguatan Komunikasi Hati kepada para guru dan tenaga pendidik.
Riset Komunikasi Hati Puji sendiri telah diterapkan dalam berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat, mulai dari siswa sekolah menengah, mahasiswa, hingga komunitas pendidikan dan keagamaan.
Penelitian terkait komunikasi tersebut juga telah melibatkan ratusan siswa SMA dan SMK di Yogyakarta sebagai sekolah mitra penelitian yang didanai DPPM Dikti selama tiga tahun terakhir.
Kegiatan di SMKN 1 Girisubo menjadi salah satu contoh hilirisasi hasil penelitian akademik ke lingkungan sekolah, sekaligus upaya mendekatkan riset dengan persoalan nyata yang dihadapi remaja. (*)
















