Regol Ayom Belum Ramah Difabel, Pemda DIY Minta Desain Ulang

0
1
Regol Ayom di Ketandan dan Beskalan saat dilakukan ujicoba penutupan. (istimewa)

Pemda DIY meminta desain ulang Regol Ayom di sirip-sirip Jalan Malioboro karena konstruksinya dinilai belum sepenuhnya ramah bagi penyandang disabilitas dan lansia.

Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan desain tersebut perlu disesuaikan agar pejalan kaki, terutama pengguna alat bantu, dapat melintas dengan lebih mudah dan nyaman.

“Ya, redesign Regol Ayom. Kan kita harus mengakomodasi semua, karena kemarin mungkin tidak ramah terhadap difabel atau lansia. Nanti disesuaikan, cuman bagaimana memudahkan pejalan kaki khususnya yang memakai alat bantu untuk melintas, itu saja,” ujar Ni Made, Kamis (10/9/2026).

Di sisi lain, pembatasan kendaraan bermotor di kawasan pedestrian tetap akan diterapkan. Namun, konsep full pedestrian di kawasan Malioboro memiliki tantangan karena berada di kawasan cagar budaya dan Sumbu Filosofis yang terikat management plan UNESCO.

Menurut Ni Made, penataan kawasan tidak cukup hanya dengan mengubah fungsi jalan. Transportasi nonmotor hingga aktivitas ekonomi juga harus diperhitungkan.

“Bukan belum diputuskan, sudah diputuskan tetapi secara kompleksitasnya yang belum. Penataan ini bukan cuman nata jalannya, tapi angkutan non-motornya hingga aktivitas ekonominya,” katanya.

Sementara itu, Pemkot Yogyakarta menyiapkan uji coba penutupan akses kendaraan untuk melihat dampaknya terhadap lalu lintas.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan mengatakan uji coba dilakukan pada hari kerja, yakni Rabu dan Kamis, pukul 09.00-22.00 WIB.

“Penutupannya hari Rabu dan Kamis, yang tidak terlalu penuh kan. Dari jam 09.00 sampai jam 22.00 WIB malam,” kata Wawan.

Uji coba ini menjadi bagian dari evaluasi teknis penataan Malioboro. Di tengah upaya menjadikan kawasan lebih ramah pejalan kaki, Pemda DIY mengingatkan satu hal: aksesibilitas bagi difabel dan lansia tidak boleh tertinggal. (*)