Ajang Jogja 10K yang digelar di pusat Kota Jogja, Minggu (3/5/2026), berdampak signifikan terhadap sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Tingkat hunian hotel di sejumlah kawasan dilaporkan hampir menyentuh 100 persen seiring kehadiran lebih dari 9 ribu peserta, mayoritas dari luar daerah.
Event lari yang mengambil start dan finish di kawasan Jalan Malioboro ini diikuti sekitar 80 persen pelari dari luar kota atau lebih dari 7 ribu orang. Lonjakan kunjungan tersebut turut mendorong perputaran ekonomi, terutama di sektor perhotelan dan usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono, menyebut okupansi hotel di kawasan Malioboro hingga wilayah selatan dan timur kota meningkat tajam menjelang pelaksanaan lomba.
“Hunian hotel hampir penuh, mendekati 100 persen. Ini memberikan dampak positif bagi pelaku usaha perhotelan maupun UMKM,” ujarnya saat konferensi pers pada Sabtu (2/5/2026).
Selain kategori utama 10K, panitia juga menghadirkan 3K Heritage Walk yang menawarkan pengalaman berlari santai sambil menikmati suasana di kawasan heritage Jogja.
Dia berharap Jogja 10K dapat masuk dalam kalender event tahunan sehingga mampu menjaga konsistensi pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi di Yogyakarta.
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menilai konsep sport tourism yang diusung dalam Jogja 10K mampu memperkuat daya tarik kota Jogja.
“Ini memberikan pengalaman khas Jogja karena melibatkan masyarakat dan budaya lokal,” kata dia.
Project Director Jogja 10K, Sentanu Wahyudi, menjelaskan kegiatan ini diinisiasi dari komunitas untuk komunitas. Sebanyak 105 komunitas lari dari berbagai daerah di Indonesia turut berpartisipasi dalam penyelenggaraan perdana tersebut.
Dari sisi penyelenggaraan, panitia memastikan pengamanan dan sterilisasi rute berjalan maksimal dengan melibatkan lebih dari 300 marshal serta berkoordinasi dengan Polresta Jogja guna menjamin keamanan peserta. (*)














