Aula Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta dipenuhi suasana khidmat. Di balik toga dan prosesi akademik yang sakral, tersimpan cerita panjang tentang gagasan, riset, dan kegelisahan intelektual yang akhirnya bermuara pada satu titik: pengukuhan guru besar.
Empat perempuan akademisi berdiri di panggung kehormatan, membawa isu yang berbeda, namun saling terhubung dalam satu benang merah yaitu ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah pemikiran Prof. Dr. Rika Astari, S.S., M.A. yang mengangkat fenomena “komodifikasi bahasa religi”. Ia menyoroti bagaimana istilah keagamaan kini tak lagi sekadar menjadi medium dakwah, tetapi telah bergeser menjadi komoditas pasar.
Dari layar lebar hingga rak produk rumah tangga, bahasa religi hadir dalam berbagai bentuk.
Film-film populer, menurutnya, kerap membungkus kisah romansa dengan istilah teologis, sementara industri lain menempelkan label “hijab” pada produk yang jauh dari konteks ibadah.
“Bahasa agama kini menjadi alat pemasaran. Ini yang perlu disikapi secara kritis agar makna sakralnya tidak terkikis,” ujarnya dalam podato pengukuhan pada Sabtu (18/4/2026).
Di sisi lain panggung, Prof. Dr. apt. Wahyu Widyaningsih, S.Si., M.Si. membawa cerita dari laut. Ia meneliti ganggang hijau Ulva lactuca, organisme sederhana yang menyimpan potensi besar sebagai bahan obat herbal terstandar.
Melalui serangkaian uji praklinik, ia menemukan bahwa ekstrak ganggang ini mampu melindungi jantung, hati, hingga mempercepat penyembuhan luka.
Baginya, kekayaan hayati Indonesia bukan sekadar sumber daya, tetapi peluang untuk membangun kemandirian industri farmasi.
“Ini bukan hanya soal obat tradisional, tetapi bagaimana kita membuktikannya secara ilmiah agar diakui sebagai obat modern,” katanya.
Isu kehalalan juga mendapat sorotan dari Prof. Dr. apt. Nina Salamah, S.Si., M.Sc. Ia mengungkap sisi lain industri farmasi yang jarang disadari publik—asal-usul gelatin dalam produk obat dan kosmetik.
Di tengah kekhawatiran penggunaan bahan non-halal, ia menawarkan solusi berbasis lokal yaitu pemanfaatan limbah tulang ikan lele sebagai sumber gelatin halal. Selain menjawab kebutuhan industri, inovasi ini juga membuka jalan bagi praktik ramah lingkungan.
“Tantangannya bukan hanya teknologi, tetapi juga keberanian untuk mandiri dan tidak bergantung pada impor,” ujarnya.
Sementara itu, Prof. Dr. Dian Artha Kusumaningtyas, M.Pd.Si. melihat tantangan dari ruang kelas. Ia menyoroti perlunya perubahan besar dalam sistem pendidikan calon guru fisika di tengah arus digitalisasi dan tuntutan global.
Menurutnya, guru masa depan tidak cukup hanya menguasai materi, tetapi juga harus mampu mengintegrasikan pedagogi, bahasa global, dan teknologi dalam pembelajaran.
“Pendidikan fisika harus melahirkan guru yang reflektif dan transformatif, bukan sekadar pengajar konsep,” tuturnya.
Di balik beragam gagasan tersebut, pimpinan UAD menegaskan bahwa capaian ini bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Rektor UAD, Prof. Dr. Muchlas, M.T., menyebut para guru besar sebagai motor penggerak lahirnya karya-karya berdampak bagi masyarakat.
Sementara Ketua Senat UAD, Prof. Dr. Ir. Dwi Sulisworo, M.T., mengingatkan bahwa jabatan akademik adalah amanah untuk terus menebar manfaat.
Pihaknya menegaskan bahwa Universitas Ahmad Dahlan sampai saat ini terus berusaha meningkatkan kontribusinya bagi kemanfaatan keilmuan yang dikembangkan UAD, baik untuk lingkungan lokal, regional, maupun internasional.
“Sehingga memberikan dampak manfaat yang lebih luas sebagaimana visi yang dikembangkan oleh UAD,”. tandasnya. (*)














