Lonjakan harga kantong plastik dan kertas pembungkus makanan sejak awal April 2026 mulai menekan sektor ekonomi mikro di DIY. Pedagang kecil terpaksa menaikkan harga jual di tengah margin keuntungan yang kian menipis akibat kenaikan biaya operasional.
Kondisi ini dialami langsung oleh Mang Kardi (57), pedagang siomay, mengaku harga plastik kresek naik sekitar 50 persen.
“Plastik kresek itu dari harga Rp7.000 sekarang jadi Rp10.500. Naiknya hampir setengahnya sendiri,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Kenaikan juga terjadi pada kertas pembungkus lapis plastik. Harga satu pack naik hingga 85 persen yaitu yang sebelumnya Rp25.000 kini mencapai Rp37.000.
Dampaknya, Mang Kardi terpaksa menaikkan harga jual. Satu porsi siomay yang semula Rp12.000 kini menjadi Rp13.000.
“Kalau rugi sih enggak, cuma keuntungan sekarang diatur supaya enggak rugi. Kalau harga kita naikin terus, nanti pembeli juga keberatan,” katanya.
Selain kemasan, kenaikan harga bahan pangan seperti cabai turut menambah beban pedagang.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Yuna Pancawati, menyatakan pemerintah terus memantau kenaikan biaya input tersebut.
Meski inflasi daerah masih didominasi harga pangan, lonjakan harga kemasan dinilai berpotensi mengganggu keberlangsungan UMKM.
“UMKM adalah tulang punggung ekonomi daerah. Efek domino dari kenaikan harga kemasan ini menjadi ancaman serius,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, Disperindag DIY menyiapkan operasi pasar untuk menjaga stabilitas bahan pokok serta memfasilitasi pembelian bahan baku secara kolektif agar harga lebih terkendali.
Di sisi lain, pemerintah juga mendorong pelaku usaha beralih ke kemasan ramah lingkungan berbahan alami seperti mendong, pandan, dan kelapa.
Namun bagi pedagang kecil, harapan utama tetap pada stabilitas harga. “Kalau bisa distabilkan lagi. Plastik itu naiknya kebangetan,” kata Mang Kardi. (*)














