Transparansi Harga dan Gizi MBG, Wali Murid Sambut Baik Kebijakan Sultan HB X

0
14
Menu kering MBG di wilayah DIY yang telah memberikan rincian harga dan kandungan gizi saat penyajian. (dok warga)

Arahan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, terkait pencantuman label kandungan gizi dan rincian harga pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) disambut baik oleh para wali murid.

Kebijakan ini dinilai mampu memberikan transparansi sekaligus menghapus keraguan orang tua terhadap kualitas asupan yang diterima anak di sekolah.

Penny, salah seorang wali murid asal Sleman, mengungkapkan bahwa adanya label harga membuat orang tua lebih memahami nilai nyata dari makanan yang disajikan.

Menurutnya, informasi ini sangat penting untuk menjawab rasa penasaran wali murid terkait kesesuaian porsi makanan dengan anggaran yang dialokasikan pemerintah.

“Menurut saya bagus, karena jelas kandungan gizinya. Kedua soal harga. Kadang ibu-ibu suka curiga, makanan ini katanya Rp15 ribu kok cuma dapat segini,” ujar Penny kepada media, Jumat (6/3/2026).

Ia menambahkan bahwa kejelasan rincian tersebut membuat orang tua merasa lebih puas dan tenang.

Senada dengan Penny, Yanti, wali murid lainnya asal Sleman, juga mendukung penuh kebijakan tersebut. Ia menilai wejangan dari Sultan HB X membuat informasi nutrisi pada menu MBG menjadi lebih transparan.

“Dikasih label itu lebih baik, jadi kita bisa tahu kandungan gizinya juga. Semoga MBG bisa lebih baik lagi dan tingkat gizinya meningkat,” tuturnya.

Di sisi lain, pihak sekolah juga mulai mengimplementasikan aturan ini. Kepala salah satu SMP swasta di Kota Jogja, Anton, menyebutkan bahwa label gizi dan harga sudah diterapkan di sekolahnya sejak Rabu lalu.

Informasi tersebut membantu sekolah memahami komposisi menu secara mendetail tanpa harus melakukan uji laboratorium mandiri setiap hari.

“Kami jadi tahu ternyata harga buah naga sekian, telur sekian, jeruk sekian. Jadi lebih jelas. Selama ini orang mungkin berpikir dengan harga Rp10 ribu dapat apa saja, tapi dengan label ini kami tahu rinciannya,” jelas Anton.

Meski transparansi harga sangat membantu, Anton menekankan agar kualitas makanan tetap menjadi prioritas utama. Ia mengingatkan bahwa esensi program ini adalah pemenuhan gizi yang baik bagi siswa, bukan sekadar menyajikan menu yang mengenyangkan. (*)