Ketika Calon Tenaga Medis SMK Kesehatan Binatama Berbalut Busana Jawa Merawat Tradisi

0
78
Memotong tumpeng sebagai simbolisasi berucap syukur yang khas dalam tradisi masyarakat jawa dałam peringatan HUT ke 13 SMK Kesehatan Binatama. (zukhronnee muhammad)

Ada pemandangan berbeda di halaman SMK Kesehatan Binatama pada Rabu, 17 Desember 2025. Tak terlihat jas laboratorium putih yang biasa mendominasi, suasana sekolah justru dipenuhi warna-warni busana adat Jawa. 

Ratusan murid, guru, hingga karyawan kompak mengenakan surjan dan kebaya, menciptakan atmosfer njawani yang kental di tengah hiruk-pikuk modernitas pendidikan kesehatan.

Nuansa budaya ini bukan sekadar seremonial, melainkan jiwa dari perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-13 sekolah tersebut. Mengusung tema BASWARA (Budaya Asli Warisan Nusantara), SMK Kesehatan Binatama ingin membuktikan bahwa kemajuan teknologi kesehatan tidak harus mencabut akar budaya pesertanya.

Dari Kebun Sekolah ke Tangan Warga

Di sudut lain sekolah, nilai kemanusiaan diterjemahkan dalam aksi nyata. Para siswa yang biasanya berkutat dengan buku anatomi, hari itu turun langsung melayani masyarakat. Melalui program Posyandu Lansia, para calon tenaga kesehatan ini dengan telaten memeriksa tensi dan kondisi kesehatan para sesepuh warga sekitar sekolah.

Tak hanya pemeriksaan kesehatan, kehangatan terasa saat program “Binatama Berbagi” digelar. Bukan bingkisan mewah, melainkan sayuran segar hasil panen dari kebun herbal sekolah yang dibagikan kepada warga dan tamu undangan.

“Tema BASWARA tahun ini kami pilih untuk menanamkan nilai-nilai luhur budaya Nusantara. Dengan Posyandu dan Binatama Berbagi, kami ingin menunjukkan bahwa sekolah adalah bagian integral dari masyarakat. Siswa tidak hanya cerdas di kelas, tapi juga punya empati di lapangan,” ujar Nuri Hastuti, S.P., M.K.M., Kepala SMK Kesehatan Binatama saat membuka peringatan HUT ke 13 sekolahnya pada Rabu (17/12/2025)

Inovasi Herbal dan Filosofi Pohon

Perayaan 13 tahun ini juga menjadi panggung pembuktian kompetensi siswa melalui Expo Proyek Kokurikuler. Lorong sekolah disulap menjadi etalase kreativitas. Ada stan produk inovasi herbal yang meracik tanaman obat tradisional menjadi produk kesehatan kekinian, stan pengolahan sampah yang menyulap limbah organik dan anorganik menjadi barang bernilai, hingga bazar kuliner yang mengasah jiwa entrepreneurship siswa.

Hadir menyaksikan langsung dinamika tersebut, Kepala Balai Pendidikan Menengah (Dikmen) Kabupaten Sleman, Pariyana, S.Pd., M.T., tak menyembunyikan kekagumannya. Ia melihat SMK Kesehatan Binatama, yang kini telah berstatus Sekolah Pusat Keunggulan (SMK PK), tumbuh matang layaknya sebuah pohon besar.

“Kalau saya ibaratkan sebuah pohon, perjalanan 13 tahun ini bermula dari biji yang dirawat hingga tumbuh besar. Namun, tantangan pohon besar adalah angin yang kencang. Maka, akarnya harus terus diperkuat di bumi,” tuturnya.

Baginya, “akar” tersebut adalah karakter dan budaya. Ia mengapresiasi langkah sekolah yang sejalan dengan kebijakan pendidikan khas Kejogjaan, yakni mencetak lulusan bermental Jalma Utomo. “Hanya dengan karakter yang baik dan akar budaya yang kuat, siswa bisa beradaptasi dan membangun masyarakat di mana pun mereka berada,” tambahnya. (*)