Film Jadi Sarana Tawar Budaya di Kotabaru Heritage Film Festival 2025

0
201
Yetti Martanti, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Jogja didampingi Siska Raharja Direktur KHFF 2025 dan kurator Suluh Pamuji. (zukhronnee muhammad)

Warisan budaya tak lagi dipandang sebagai sesuatu yang sakral dan tak tersentuh. Melalui medium film, Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2025 justru mengajak publik untuk mengkritisi, menafsir ulang, bahkan menegosiasikan ulang makna kebudayaan dalam kehidupan hari ini.

Mengangkat tema “Film sebagai Ruang Kritik dan Negosiasi Budaya”, KHFF 2025 akan digelar pada 7–9 Agustus di Kompleks SMAN 3 Yogyakarta, kawasan cagar budaya Kotabaru. Seluruh program bersifat gratis dan terbuka untuk umum.

“Film bisa jadi lensa untuk membaca ulang masa lalu dan menegosiasikan masa depan. Warisan budaya tidak boleh kaku, ia harus hidup,” ujar Siska Raharja, Direktur Festival KHFF saat taklimat media pada Jumat (1/8/2025).

Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta sebagai penyelenggara menegaskan peran strategis festival ini dalam menghubungkan generasi muda dengan akar budaya kota. 

“KHFF bukan hanya ruang tontonan, tapi perayaan reflektif akan keberagaman dan dinamika zaman,” kata Kepala Dinas Kebudayaan, Yetti Martanti.

Tahun ini, KHFF menerima 158 submisi dari dalam dan luar negeri. Sebanyak 22 film dipilih untuk kompetisi, dan 8 lainnya untuk program non-kompetisi. 

Kurator Suluh Pamuji menyatakan seleksi film menitikberatkan pada keberanian menggugat cara lama dalam memaknai kebudayaan.

Empat penghargaan disiapkan: Mahaditya Award (film independen), Purwaseswa Award (pelajar), Karyanagri Award (produksi pemerintah pusat), dan Sahasrakarya Award (produksi pemerintah daerah). 

Dua film unggulan yang ditayangkan adalah Turang (1957) karya Bachtiar Siagian yang baru ditemukan, dan Gowok (2025) karya Hanung Bramantyo.

Festival ini juga menampilkan kuliah publik bertema sinema dan arsip Asia Tenggara, workshop animasi bersama Rimbun Project, serta program komunitas seperti Layar Kobar, Pasar Kobar, dan kerja sama arsip bunyi dengan Lokananta.

Sejak 2023, KHFF tumbuh sebagai ruang budaya yang reflektif dan relevan—menjawab kerinduan publik akan festival yang tidak sekadar merayakan film, tetapi juga mempertanyakan akar dan arah kebudayaan itu sendiri.(*)