Tak Percaya MBG, Orang Tua di Jogja Pilih Bekali Anak dari Rumah

0
2
Aksi penolakan MBG di depan Gedung Agung Yogyakarta. (Istimewa)

Sejumlah orang tua di Jogja memilih membawakan bekal makanan dari rumah untuk anak-anak mereka. Kekhawatiran anak menjadi korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) membuat mereka tak lagi sepenuhnya percaya pada makanan yang disediakan di sekolah.

Kekhawatiran itu disampaikan dalam aksi Koalisi Pegiat HAM dan Anti Korupsi Selamatkan Indonesia (KPH AKSI) bersama sejumlah orang tua di depan Gedung Agung Yogyakarta, Selasa (29/9/2026).

“Kami khawatir karena melihat situasi, berita-berita dan kenyataan yang ada di lapangan banyak terjadi keracunan terhadap anak-anak yang ada di sekolah,” kata Jumiyem, pengurus Serikat PRT Tunas Mulia DIY.

Menurut Jumiyem, sebagian orang tua memilih menyiapkan bekal sendiri meski sekolah menyediakan MBG. Mereka merasa lebih aman memastikan makanan anak berasal dari rumah.

Koordinator KPH AKSI, Tri Wahyu, menilai penanganan kasus keracunan MBG di DIY berulang dengan pola serupa, mulai dari munculnya korban, permintaan maaf, penghentian sementara, hingga program kembali berjalan.

“Ada kejadian [keracunan MBG], korban, permintaan maaf, penghentian sementara, kemudian program kembali berjalan tanpa kejelasan proses hukum,” ujarnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan DIY yang disebut dirilis 25 September 2026, sekitar 5.567 orang menjadi korban keracunan MBG sepanjang 2025 hingga akhir September 2026. Angka tersebut merupakan akumulasi 48 kasus di berbagai wilayah DIY.

KPH AKSI mempertanyakan perkembangan proses hukum dan meminta polisi mengusut pihak yang bertanggung jawab, termasuk jika ditemukan unsur pidana. Aspirasi itu disampaikan melalui surat kepada Kapolresta Yogyakarta dengan tembusan Ombudsman RI Perwakilan DIY.

PS Kanit 3 Satreskrim Polresta Yogyakarta, Ipda Gara Kinarta Immanuel Purba, mengatakan kepolisian akan menindaklanjuti aspirasi tersebut.

“Semua informasi dan semua keluhan yang masuk ke kepolisian pasti kita tindak lanjuti secara bertahap,” ujarnya. (*)