Libur Lebaran 2026 di jantung Kota Jogja masih menjadi idaman para pelancong. Pada Jumat (27/3/2026) Hingga pukul 15:00 WIB, gelombang kendaraan yang merangsek masuk ke wilayah kota terpantau menembus angka 78.006 unit.
Hal ini memicu kemacetan horor terlebih di kawasan “sirip” Malioboro akibat semrawutnya tata kelola parkir.
Berdasarkan data Traffic Counting CCTV Smart Province, kepadatan tertinggi tercatat masuk melalui pintu barat di Simpang Kyai Mojo dengan 32.912 kendaraan, disusul pintu timur di Simpang Maguwo sebanyak 28.090 kendaraan.
Arus masif ini terkonsentrasi menuju pusat kota, membuat ruas jalan sempit nyaris tak bergerak setiap petang hingga malam.
Di Jalan Perwakilan, pemandangan memprihatinkan terlihat saat trotoar yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki justru “dijajah” oleh barisan kendaraan.
Kondisi ini diperparah oleh aksi nekat sejumlah pengemudi yang keluar dari Malioboro ke Jalan Mataram yang melawan arah demi mendapatkan ruang parkir kosong, sehingga mengunci arus lalu lintas dari berbagai sisi.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, mengakui bahwa disiplin parkir menjadi “pekerjaan rumah” (PR) besar di tengah lonjakan volume kendaraan ini.
“Alhamdulillah kalau dari sisi keamanan minim komplain, tapi parkirnya ini masih waduh. Mereka parkir melintang, bukan sejajar, padahal jalannya sempit. Ini yang jadi evaluasi kita bersama Pak Wali Kota,” tegasnya kepada wartawan.
Made menyoroti bahwa meski sistem pemantauan arus berjalan baik, pengawasan pola parkir di lapangan masih sangat lemah.
“Ada dua sisi jalan dipakai semua, akhirnya tidak bisa lewat. Kita senang ekonomi lancar karena wisatawan banyak, tapi kenyamanan publik juga harus diperhatikan,” tambah Made.
Sebagai langkah darurat, Pemda DIY kini mempertimbangkan pemberlakuan kuota kendaraan masuk secara real-time.
Jika kapasitas kantong parkir resmi telah penuh, akses menuju kawasan Malioboro akan dibatasi ketat agar kemacetan tidak melumpuhkan aktivitas dan kenyamanan. (*)














