Kompleks Kepatihan berubah menjadi ruang temu yang hangat pagi ini. Di tengah perayaan Idulfitri 1447 H, ribuan warga berkumpul bukan sekadar mengincar hidangan di 70 gerobak angkringan gratis, tapi demi satu momen langka: berjabat tangan langsung dengan Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Di balik antrean yang mengular, ada pesan mendalam tentang kepemimpinan Ngarso Dalem.
Naufal Makarim, seorang warga Pekalongan yang ikut menunggu sejak pagi, melihat momen ini sebagai simbol runtuhnya sekat feodalisme.
“Walaupun beliau seorang Raja, tapi beliau mau membuka diri untuk masyarakat. Ini sesuatu yang langka di zaman sekarang. Biasanya kan sistem kerajaan itu kental dengan feodalisme, tapi beliau justru meruntuhkan stigma itu,” ujar Naufal di sela-sela antrean.
Ia menambahkan bahwa sikap rendah hati Sultan seharusnya menjadi cermin bagi para pejabat publik lainnya. Naufal melihat banyak aparatur sipil negara (ASN) yang juga ikut mengantre dengan tertib, sebuah pemandangan yang menurutnya sangat positif.
“Ini contoh baik buat kita semua. Walaupun punya jabatan, kita harus tetap membuka diri dan menyentuh masyarakat. Istilah Jawanya itu Nyawiji (menyatu),” imbuhnya.
Kesan serupa dirasakan para perantau. Sri Winarti Pandiangan, warga asal Medan, mengaku sempat tak percaya. Bermodal informasi dari media sosial yang ia dapat kemarin, ia nekat datang ke Kepatihan.
“Beruntung sekali bisa langsung salaman. Sebagai pendatang baru, ini pengalaman yang luar biasa dan sangat menyentuh,” katanya.
Sementara itu, Siti Merlina asal Brebes yang sedang liburan di Jogja, rela datang meski tanpa persiapan matang. Ia mengaku hanya mengenakan pakaian seadanya karena informasi acara yang serba mendadak.
“Rasanya deg-degan banget. Ini mungkin kesempatan sekali seumur hidup bisa sedekat ini dengan beliau,” tutur Siti dengan mata berbinar meski matahari pagi mulai menyengat. (*)














