Ketika Lima “Penguasa” Jalur Lari Menyatukan Langkah di Jalur Alam Indonesia

0
4
Race Owner Trail Run bersepakat untuk menggelar ajang Indonesia Trail Run Series untuk semakin memposisikan olahraga lari trail. Kesepakatan itu tercapai pada momentum 1 dekade Coast To Coast Night Ultra Trail Run 2026 di Pantai Selatan Yogyakarta beberapa waktu lalu. (istimewa)

Bayangkan sebuah perjalanan yang dimulai dari embusan angin laut di pesisir Parangtritis, mendaki dinginnya kaldera Dieng, menembus kabut tropis Bali, hingga akhirnya menyentuh garis finis di keheningan lereng Gunung Lawu.

Selama ini, para pelari lintas alam (trail runner) mungkin menikmati tantangan itu secara terpisah. Namun, suasana di tengah ajang Coast to Coast (CTC) Ultra – Yogyakarta pada Sabtu (14/2) lalu terasa sedikit berbeda. Di balik keriuhan pelari yang membelah perbukitan, sebuah sejarah baru bagi olahraga alam Indonesia sedang dipahat.

Lima penyelenggara balap lari lintas alam terbesar di tanah air duduk bersama. Mereka bukan sedang bersaing berebut panggung, melainkan sepakat untuk “kawin” dalam sebuah kolaborasi nasional bernama Indonesia Trail Run Series.

Selama ini, kolaborasi antar-komunitas lari memang sudah ada, namun sifatnya masih cair—sekadar saling dukung atau titip salam di media sosial. Ikhsan Sitaryadi dari CTC Ultra bercerita bahwa lahirnya seri ini adalah buah dari diskusi panjang.

“Kami ingin membangun sistem yang berkelanjutan. Bukan sekadar simbolik, tapi memberikan arah jelas bagi atlet dan standar yang sama bagi setiap penyelenggara,” ungkap Ikhsan dalam keterangan tertulis Rabu (23/2/2026).

Nantinya, dalam setiap event, akan ada kategori khusus yang masuk ke dalam sistem poin series. Artinya, pelari tidak lagi bertarung di satu lomba saja, melainkan berkompetisi dalam satu musim penuh.

“Ini menciptakan dinamika baru—lebih strategis dan pastinya lebih profesional,” tambah Agus Yudha dari Bali Trail Run Ultra.

Menjual Cerita, Bukan Sekadar Lomba

Bagi Agus Yudha dan kawan-kawan, Indonesia punya “harta karun” berupa hutan dan lanskap yang unik. Dengan adanya seri ini, yang ditawarkan kepada dunia bukan lagi sekadar medali, melainkan pengalaman dan narasi destinasi.

Februari: Menyisir pantai dan bukit di Yogyakarta.
Mei: Menikmati eksotisme Bali.
Juni: Menantang dinginnya Wonosobo.
Juli: Menjelajahi pegunungan Pasuruan.
Desember: Menutup tahun di lereng Lawu, Tawangmangu.

Menariknya, gairah lari ini tidak berhenti di garis finis. Mahendratta dari Dieng Caldera Race menyoroti betapa besarnya dampak ekonomi yang dibawa oleh para pelari. Mereka tidak datang sendirian; ada keluarga, teman, dan komunitas yang ikut serta.

“Mereka rata-rata tinggal 2 sampai 4 malam. Hotel, homestay, kuliner lokal, hingga UMKM transportasi semuanya bergerak,” jelas Mahendratta.

Data internal menunjukkan bahwa lari lintas alam telah menjadi mesin ekonomi baru, terutama bagi wilayah dataran tinggi yang jauh dari pusat industri.

Dengan hadirnya Indonesia Trail Run Series, lari lintas alam di Indonesia kini bukan lagi sekadar hobi yang melelahkan, melainkan sebuah simfoni yang menyatukan prestasi, pariwisata, dan ekonomi rakyat. (*)