
Berawal dari berjualan di Alun-Alun Kidul (Alkid) Yogyakarta pada 2007, Andy Kurniawan perlahan membangun Cilok Gajahan menjadi usaha kuliner lokal yang kini hadir di 11 lokasi. Perjalanan itu ditempuh dari usaha sederhana, pelanggan yang terbatas, hingga kesempatan mengembangkan bisnis melalui kemitraan dengan Alfamidi.
Bagi Andy, Cilok Gajahan bukan sekadar usaha menjual jajanan. Ada keinginan untuk menghadirkan kudapan bercita rasa lokal yang dekat dengan masyarakat, terjangkau, tetapi tetap mengutamakan kualitas.
Nama Gajahan dipilih untuk membawa identitas lokal Yogyakarta. Dari Alun-Alun Kidul, Andy memulai langkahnya dengan harapan cilok buatannya bisa diterima masyarakat luas.
“Saya ingin Cilok Gajahan tidak hanya dikenal sebagai tempat membeli cilok, tetapi sebagai salah satu produk jajanan lokal Yogyakarta yang bisa dibanggakan,” kata Andy, Kamis (24/9/2026).
Perjalanan membangun usaha itu tidak selalu berjalan mulus. Pada masa awal berjualan, Andy sempat khawatir usahanya tidak bisa bertahan. Jumlah pembeli yang masih terbatas turut memengaruhi pendapatan sehari-hari.
Namun, kondisi tersebut justru menjadi bagian dari proses belajar. Andy menyadari, menjalankan usaha makanan bukan hanya perkara membuat produk dan menjualnya. Ada konsistensi, pelayanan, serta kemampuan menjaga kepercayaan pelanggan yang harus terus dibangun.
Cilok Gajahan menawarkan cilok bertekstur kenyal dengan isian tetelan sapi yang menambah cita rasa gurih. Dengan harga Rp 7.000, pelanggan bisa menikmati cilok yang disajikan bersama saus pedas dengan pilihan tingkat kepedasan.
Bagi sebagian pelanggan, perpaduan rasa tersebut menjadi alasan untuk kembali.
“Saya sering beli cilok di sini karena enak, dalamnya ada tetelan sapinya, selain itu pedasnya mantap bisa pilih level,” ucap Ajeng, salah satu pelanggan tetap Cilok Gajahan.
Pengalaman pelanggan seperti Ajeng menjadi bagian penting dalam perjalanan Andy membangun usahanya. Baginya, rekomendasi dari pelanggan yang puas memiliki nilai tersendiri, bahkan tidak bisa diukur hanya dengan uang.
Kesempatan untuk memperluas usaha datang pada 2016, ketika Cilok Gajahan bergabung menjadi tenant Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Alfamidi. Kemitraan tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan Cilok Gajahan hingga berkembang dan menjangkau pelanggan di berbagai lokasi, termasuk di Alfamidi Super Kaliurang, Yogyakarta.
Di tengah perkembangan itu, Andy tetap berupaya menjaga kualitas produk dan pelayanan. Ia ingin pelanggan yang datang untuk pertama kali karena penasaran bisa kembali dan menjadi pelanggan tetap.
Bagi Andy, pertumbuhan usaha juga memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar peningkatan penjualan.
“Bagi saya keuntungan bukan hanya dihitung uang masuk ke rekening karena ada yang lebih utama, yaitu membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain, memperluas jaringan dan yang terpenting membangun brand lokal,” ungkap Andy.
Ke depan, Andy berharap Cilok Gajahan dapat menjadi contoh bahwa usaha kecil yang dimulai dengan keterbatasan memiliki peluang untuk berkembang. Konsistensi, kemauan belajar, dan menjaga kualitas menjadi prinsip yang ingin terus ia pegang.
Perjalanan dari Alun-Alun Kidul hingga 11 lokasi menjadi bagian dari upaya Andy memperkenalkan jajanan lokal Yogyakarta kepada lebih banyak orang. Melalui kemitraan dengan Alfamidi, Cilok Gajahan juga menunjukkan bagaimana kolaborasi dapat menjadi salah satu jalan bagi pelaku UMKM untuk memperluas jangkauan usahanya. (*)













