GIFTS 2026 Buka Jalan bagi Puluhan Penelitian

0
1
KOnferensi pers penutupan GIFTS 2026. Sebanyak 11 nota kesepahaman membuka tindak lanjut bagi 32 penelitian, sementara 27 inovasi memperoleh mitra. (Zukhronnee muhammad)

Sebanyak 32 penelitian akan ditindaklanjuti melalui 11 nota kesepahaman antara perusahaan dan peneliti dalam rangkaian Global Innovation and Future Technology Summit (GIFTS) 2026. Forum yang digelar Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DIY ini juga mencatat 27 inovasi memperoleh mitra dari 100 inovasi yang lolos kurasi.

Wakil Ketua Umum Bidang Kelautan, Perikanan, dan Sumber Daya Maritim KADIN DIY, Aryo Wiryawan, mengatakan kesepakatan tersebut menjadi salah satu hasil konkret GIFTS 2026.

“Dari 11 MoU itu ada 32 penelitian yang akan kita tindak lanjuti. Ada juga satu business matching yang berlanjut hingga penandatanganan PKS atau Perjanjian Kerja Sama,” ujar Aryo dalam rangkaian GIFTS 2026 yang diselenggarakan UGM pada 21–22 Oktober 2026. 

Aryo mengatakan, setelah acara, sejumlah peneliti bertemu dengan pengusaha untuk melanjutkan pembicaraan bisnis hingga menghasilkan beberapa kesepakatan.

Menurutnya, pertemuan langsung antara peneliti dan pelaku usaha penting agar hasil riset dapat dikembangkan sesuai kebutuhan industri.

Sebelumnya, KADIN DIY mengkurasi 177 riset dan inovasi. Dari 100 inovasi yang lolos kurasi, sebanyak 27 di antaranya memperoleh mitra.

GIFTS 2026 juga memfasilitasi penjajakan investasi melalui agenda Investor Speed Dating. Sebanyak 204 startup mendaftar, dengan 76 di antaranya terkurasi untuk mengikuti proses penjajakan kerja sama dengan investor dan mitra potensial. Peserta berasal dari Yogyakarta, Bali, Surabaya, Bandung, dan Jakarta.

Benih dan Komoditas Pangan Jadi Fokus Hilirisasi

Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Danang Sri Hadmoko, mengatakan sejumlah produk dan hasil riset UGM telah memasuki tahap hilirisasi serta menjalin kerja sama dengan mitra strategis.

Salah satu fokusnya adalah sektor pertanian. Dalam rangkaian GIFTS 2026, UGM menandatangani perjanjian kerja sama dan nota kesepahaman dengan sejumlah pihak di sektor agro.

Danang menyebut beberapa hasil pengembangan yang menjadi perhatian, antara lain benih padi Gama, melon premium, kacang hijau Makbin, serta varietas kedelai khusus yang masih dalam proses penjajakan kesepakatan.

Menurutnya, benih-benih UGM telah membangun jejaring melalui asosiasi dan mendapat pengakuan dari kalangan petani di Indonesia. Pengembangan komoditas tersebut menjadi bagian dari upaya UGM mendukung program swasembada pangan pemerintah.

“Jadi ini yang kita optimalkan untuk mendukung swasembada pangan pemerintah,” kata Danang.

Hilirisasi Dimulai dari Kebutuhan Industri

Direktur Direktorat Pengembangan Usaha UGM, Prof. Wiratni, mengatakan salah satu kesepakatan penting dalam GIFTS 2026 adalah kerja sama UGM dengan KADIN untuk mempercepat hilirisasi inovasi.

UGM berupaya menghilirkan ribuan inovasi yang dihasilkan dosen setiap tahun. Melalui kerja sama dengan KADIN, proses tersebut diharapkan menjadi lebih efisien dan terarah sehingga semakin banyak produk UGM yang memasuki pasar.

“Dengan perjanjian kerja sama dengan KADIN, kami berharap proses hilirisasi ini menjadi lebih efisien dan lebih terarah, sehingga nanti akan lebih banyak produk-produk UGM yang akan masuk pasar,” ujar Wiratni.

UGM juga menjajaki pemanfaatan BIK sebagai ruang pamer inovasi. Fasilitas tersebut diharapkan memudahkan industri dan masyarakat mengetahui hasil riset UGM sekaligus menjajaki peluang pemanfaatannya.

Wiratni menjelaskan, pendekatan hilirisasi dalam GIFTS tahun ini tidak hanya dimulai dari inovasi yang sudah tersedia. UGM juga berupaya mengidentifikasi kebutuhan industri sejak tahap awal pengembangan ide bisnis.

Dalam forum tersebut, perwakilan badan usaha milik negara (BUMN), perusahaan swasta, dan berbagai sektor industri berkesempatan mendengarkan pemaparan hasil riset dosen dan mahasiswa. Industri dapat menilai relevansi inovasi dengan kebutuhan mereka sekaligus menyampaikan persoalan yang membutuhkan solusi.

“Jadi kita agak tarik mundur sedikit, tidak langsung ke hasil hilirisasinya, tapi dari ide bisnisnya bahkan. Untuk melihat apakah ini relevan dengan kebutuhan industri atau dari sisi industri kita juga mendengarkan sebenarnya mereka itu membutuhkan apa,” jelasnya.

Pendekatan tersebut diharapkan mempertemukan kebutuhan pasar dengan potensi riset sejak awal sehingga pengembangan produk dan komersialisasi dapat berjalan lebih terarah.

Lebih dari 50 Dokumen Kerja Sama Ditandatangani

Secara keseluruhan, rangkaian GIFTS 2026 mencatat penandatanganan lebih dari 50 dokumen kerja sama dan Letter of Intent (LoI). Pada pembukaan acara, tujuh naskah kerja sama telah ditandatangani.

Dokumen yang tercatat dalam rangkaian kegiatan mencakup nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU), perjanjian kerja sama (PKS), perjanjian kerahasiaan (Non-Disclosure Agreement/NDA), serta LoI.

Danang menegaskan, dokumen-dokumen tersebut merupakan titik awal untuk membangun kolaborasi yang lebih konkret. Kesepakatan diharapkan ditindaklanjuti melalui pengembangan produk, investasi, lisensi dan transfer teknologi, pengembangan bersama industri, produksi, serta pemanfaatan inovasi oleh pengguna.

Aryo mengapresiasi penyelenggaraan GIFTS 2026 yang mempertemukan perusahaan dan peneliti. Ia berharap pola kolaborasi tersebut terus dikembangkan agar semakin banyak hasil penelitian menemukan mitra dan memperoleh tindak lanjut.

Kemandirian Teknologi dan Dampak bagi Masyarakat

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Dr. Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., dalam sambutan pembukaan secara daring, menegaskan Indonesia memiliki talenta, kekayaan pengetahuan, dan potensi inovasi yang besar. 

Namun, potensi tersebut tidak otomatis menjadi keunggulan tanpa kemampuan mengembangkan, menerapkan, dan memperluas manfaat hasil riset.

“Hubungan antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah tidak cukup berhenti pada pertemuan atau kesepakatan. Kita membutuhkan kerja bersama sejak persoalan dirumuskan, teknologi diuji, hingga solusi dapat diterapkan secara berkelanjutan,” ujar Fauzan.

Ia menekankan bahwa kemandirian teknologi bukan berarti menutup diri dari dunia. Indonesia perlu memiliki kapasitas untuk memahami, memilih, mengadaptasi, dan mengembangkan teknologi strategis demi kepentingan bangsa. Kerja sama global harus memperkuat kemampuan nasional, bukan memperpanjang ketergantungan.

Keberhasilan inovasi, lanjutnya, tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi dan daya saing. Manfaat yang diterima masyarakat, peningkatan kemampuan nasional, serta pengelolaan dampak sosial dan lingkungan juga perlu menjadi bagian dari ukuran keberhasilan.

Sejumlah agenda GIFTS 2026 mengangkat isu pangan, energi, air, lingkungan, kebencanaan, sampah, industri benih, dan ekosistem kakao. Percepatan bisnis diharapkan berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat dan tanggung jawab terhadap lingkungan. (*)