Pemkot Jogja berencana mengusulkan pergeseran posisi regol ayom di kawasan sirip Jalan Malioboro. Langkah ini ditujukan untuk memperluas ruang pejalan kaki sekaligus memudahkan aktivitas warga dan pertokoan.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengatakan, usulan itu muncul setelah Pemkot menerima aspirasi dari pemilik toko dan pengelola hotel di sekitar Malioboro.
Regol ayom diusulkan bergeser lebih maju mendekati tepi Jalan Malioboro agar selasar di kawasan sirip tetap cukup untuk lalu-lalang.
“Kami baru mempertimbangkan untuk mengusulkan agar letak regol ayom-nya itu agak maju ke arah tepi Jalan Malioboro. Supaya selasarnya masih bisa untuk lalu-lalang masuk ke kawasan sirip,” ujarnya Senin (6/9/2026).
Pemkot menilai penataan ini dapat memberikan ruang yang lebih lega bagi pejalan kaki, termasuk lansia dan penyandang disabilitas. Pada saat yang sama, akses aktivitas warga dan pertokoan di kawasan sirip tetap dipertahankan.
Penutupan sirip Malioboro juga tidak akan diterapkan secara kaku. Pemkot masih berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan DIY untuk memastikan warga tetap bisa melintas.
Salah satu kawasan yang kini diuji coba adalah Beskalan Ketandan. Penataan di lokasi tersebut dinilai memungkinkan karena masih tersedia ruang untuk memutar kendaraan atau exit serta akses menuju kantong parkir ketika portal ditutup.
“Penutupan itu tidak kaku. Ada daerah yang betul-betul tidak bisa masuk ke situ kecuali lewat Malioboro, itu pasti masih kita beri akses. Yang kita uji coba seperti Beskalan Ketandan karena kalau ditutup masih ada ruang untuk putar dan ke parkiran,” jelasnya.
Pemkot memastikan penataan regol ayom dan penutupan kawasan sirip akan didahului sosialisasi. Pelaksanaannya dilakukan bertahap untuk mencari skema yang tetap mengakomodasi pejalan kaki, warga, pelaku usaha, dan pengguna kendaraan. (*)














