Becak Listrik Beda Nasib di Tangan Pengemudi, Ada yang Mangkrak, Ada yang Masih Prima

0
5
Salah satu becak listrik rakitan Selis pada 2023 yang disebut banyak masalah dan tidak nyaman. (dok jogjainfo)

Becak listrik (belis) bantuan Pemda DIY ternyata punya cerita berbeda di tangan pengemudi. Sebagian mengeluhkan armada rusak dan mangkrak, sementara kelompok lain menyebut belis yang mereka gunakan masih prima.

Ketua Koperasi Jasa Becak Wisata Jogjakarta, Petrus Juli Hartono, menyebut sekitar 70 persen dari 50 belis bantuan tahun 2023 kini rusak. Sebanyak 35 unit disebut tidak lagi bisa digunakan untuk bekerja.

Armada yang disalurkan melalui Dinas Perhubungan DIY pada 23 Desember 2023 itu merupakan program konversi bentor menggunakan Dana Keistimewaan. Harga pembuatannya mencapai Rp43 juta per unit.

Menurut Petrus, kerusakan paling banyak terjadi pada baterai dan sistem pengkabelan. Pengemudi juga kesulitan memperbaiki karena harga suku cadang mahal.

“Hampir 70 persen becak listrik keluaran 2023 mengalami kerusakan dan tidak dapat digunakan untuk bekerja,” ujar Petrus, Selasa (4/8/2026).

Petrus juga menilai desain belis rakitan Selis kurang nyaman untuk wisatawan karena tidak dilengkapi shockbreaker.

Namun, cerita berbeda datang dari Ketua Paguyuban Becak Wisata Malioboro, Paimin. Ia menyebut belis yang digunakan kelompoknya, terutama rakitan UGM, masih berfungsi baik.

Menurut Paimin, perawatan menjadi kunci. Kerusakan kecil segera diperbaiki agar tidak berkembang menjadi kerusakan berat.

“Kalau yang saya punya, satu rombongan tidak ada masalah. Yang rusak sekali tidak ada,” katanya.

Meski demikian, Paimin mengakui belis rakitan Selis memiliki sejumlah catatan, mulai dari tidak adanya shockbreaker, konstruksi yang dinilai rentan terhadap hujan, hingga berat dikayuh ketika baterai habis.

Selama 2023–2025, Pemda DIY telah menyalurkan 140 belis: 50 unit pada 2023, 40 unit pada 2024, dan 50 unit pada 2025. Tahun ini, 80 unit baru direncanakan kembali disalurkan.

Masalahnya, jumlah tersebut baru mencakup sekitar 20 persen populasi bentor di kawasan Malioboro. Masih ada sekitar 700 bentor yang belum tersentuh program konversi. (*)