Unisa Yogyakarta Bangun Laboratorium Pengobatan Regeneratif

0
12
Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Urusan Internasional Unisa Yogyakarta, Ali Imron. (istimewa)

Harapan akan pengobatan masa depan yang lebih terjangkau mulai disemai di Yogyakarta. Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta tengah menyiapkan laboratorium stem cell atau sel punca yang diproyeksikan mulai beroperasi pada Juli-Agustus 2026.

Langkah ini menjadi upaya strategis untuk memutus ketergantungan pada produk medis impor yang selama ini membuat biaya terapi regeneratif melambung tinggi. Pembangunan fasilitas yang berlokasi di Sleman ini merupakan respons terhadap tren global future medicine.

Pengobatan regeneratif, yang berfokus pada perbaikan atau penggantian sel-sel tubuh yang rusak, diyakini akan menjadi tulang punggung dunia medis dalam beberapa dekade mendatang.

Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Urusan Internasional Unisa Yogyakarta, Ali Imron, mengungkapkan bahwa kehadiran laboratorium ini adalah langkah krusial agar Indonesia tidak tertinggal dalam peta persaingan sains kesehatan global.

“Future medicine salah satunya adalah regenerative medicine. Artinya, kalau kita tidak menuju ke sana, kita akan ketinggalan,” ujar Ali Imron dalam acara Media Gathering di Sleman, Senin (9/3/2026).

Memutus Rantai Impor

Salah satu tantangan terbesar dalam penerapan terapi stem cell di Indonesia saat ini adalah masalah aksesibilitas.

Hingga kini, jumlah laboratorium sel punca di tanah air masih sangat terbatas, yakni hanya sekitar delapan fasilitas. Kelangkaan ini berdampak langsung pada biaya pengobatan yang sangat mahal karena ketergantungan pada teknologi dan produk luar negeri.

Ali memberikan gambaran betapa tingginya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat. Untuk penyakit seperti diabetes melitus, satu kali injeksi terapi turunan stem cell yang berbasis produk impor bisa mencapai Rp225 juta. Angka ini praktis hanya bisa dijangkau oleh kalangan ekonomi atas.

“Prinsip kita di Unisa Yogyakarta, teknologi kesehatan tidak boleh hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu saja. Semakin banyak laboratorium dibangun, aksesibilitas masyarakat akan semakin tinggi dan harga bisa ditekan,” tegasnya.

Penguatan Riset dan Akademik

Sesuai dengan regulasi di Indonesia, penggunaan terapi berbasis sel punca wajib didukung oleh proses penelitian dan pengembangan yang ketat di laboratorium. Oleh karena itu, fasilitas yang tengah dibangun Unisa ini akan difungsikan sebagai pusat riset ilmiah sebelum metode terapi diaplikasikan kepada pasien.

Tak hanya sekadar menyediakan infrastruktur fisik, Unisa Yogyakarta juga melakukan penguatan dari sisi sumber daya manusia.

Tahun akademik ini, kampus tersebut resmi membuka Program Magister Fisioterapi dengan konsentrasi khusus pada fisioterapi regeneratif (regenerative physiotherapy).

Integrasi antara kurikulum akademik dan fasilitas riset ini diharapkan mampu melahirkan ekosistem bioteknologi yang matang. Laboratorium ini nantinya akan menjadi wadah lintas disiplin bagi berbagai program studi kesehatan di lingkungan Unisa untuk mengembangkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Melalui langkah ini, Unisa Yogyakarta tidak hanya sedang membangun sebuah gedung, tetapi juga sedang meletakkan fondasi bagi kedaulatan kesehatan nasional, di mana teknologi tinggi hadir untuk melayani semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali. (*)