Cahaya sore mulai menelusup ke dalam Auditorium Driyarkara, Universitas Sanata Dharma. Sabtu (18/10/2025), ruangan itu akan dipenuhi alunan musik yang berbeda—bukan sekadar hiburan, melainkan doa yang dikemas dalam 22 lagu orkestra. Di balik podium konduktor, berdiri seorang pria berusia 71 tahun dengan senyum teduh: Grego Julius.
Namanya mungkin tidak sefamiliar musisi lain. Sebelumnya, ia dikenal sebagai Edi Widianto, seorang pebisnis dari Klaten yang menjalani kehidupan seperti kebanyakan orang—bekerja, membangun keluarga, mengejar kesuksesan.
Namun di titik senja hidupnya, ia menemukan sesuatu yang lebih bermakna: mengungkapkan syukur kepada Tuhan melalui musik orkestra.
“Ini bentuk doa saya. Saya menulis syair lalu menjadikannya lagu sebagai ucapan terima kasih kepada Tuhan atas kehidupan yang diberikan,” ujar Grego sesaat sebelum konser dimulai.
Perjalanannya ke dunia musik tak selalu mulus. Salah satu momen paling gelap dalam hidupnya justru melahirkan salah satu karya terdalamnya. Tiga bulan lamanya, Grego terpuruk dalam depresi berat. Ia berkeliling mencari kesembuhan—dari dokter ke pengobatan alternatif—namun tak ada yang berhasil.
“Saya tidak tahu sakit apa. Akhirnya saya sadar itu depresi. Dari situ saya menulis lagu ini sambil memohon ampun pada Tuhan,” kenangnya.
Lagu itu menjadi titik balik. Bukan hanya kesembuhan fisik yang ia temukan, tetapi juga kesadaran spiritual yang lebih dalam. Musik menjadi terapi sekaligus jembatan untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta.
Sebagai ayah lima anak, Grego juga menyimpan luka rindu yang indah. Satu per satu, keempat anaknya berpamitan—sungkem meminta restu untuk menikah dan membangun kehidupan mereka sendiri. Rumah yang dulu ramai tiba-tiba menjadi sunyi. Hanya tersisa ia dan sang istri.
“Saya paling terharu saat mereka sungkem minta restu. Rumah jadi sepi, tinggal saya dan istri. Dari perasaan itu lahir lagu yang sangat personal,” ungkapnya.
Lagu yang terinspirasi dari kerinduan seorang ayah ini menjadi salah satu karya paling emosional dalam konser malam itu. Setiap not mengandung kehangatan, kepasrahan, sekaligus doa untuk anak-anak yang kini menjalani hidup mereka sendiri.
Musik Tanpa Sekat Agama
Meski sebagian besar lagu Grego diciptakan untuk mengiringi ibadah di gereja, ia menegaskan bahwa pesan di dalamnya bersifat universal dan melampaui batas-batas keyakinan.
“Kalau di lagu saya disebut ‘Yesus’, bisa saja diganti dengan ‘Allah’. Intinya, semua lagu ini mengajak siapa pun untuk berdoa dan menyadari betapa besar kuasa Tuhan,” jelasnya.
Keyakinan inilah yang membuat musik Grego tidak hanya bergema di lingkungan gereja, tetapi juga menyentuh hati siapa saja yang mendengarnya—tanpa memandang agama atau kepercayaan. Musik, baginya, adalah bahasa universal yang bisa menyatukan manusia dalam satu hal: rasa syukur.
Konser “Doa dan Syukur” yang digelar Sabtu sore itu menampilkan 22 lagu ciptaan Grego sendiri. Yang menarik, ia tidak terpaku pada satu genre. Lagu-lagunya mengalir dalam berbagai warna musik—pop, klasik, jazz, bossa nova, hingga latin. Keragaman ini bukan tanpa alasan.
“Musik itu bahasa universal. Lewat lagu, saya ingin mengajak siapa pun untuk merenung, berdoa, dan bersyukur,” tutupnya. (*)














