Lansia Sebatang Kara di Jogja Masuk Desil 10, PKH Dicabut

0
3
Suwarno, warga Jogoyudan, Kota Jogja. (istimewa)

Suwarno (70), lansia sebatang kara di Jogoyudan, Kota Jogja, harus kehilangan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) setelah namanya mendadak masuk Desil 10 atau kelompok super kaya.

Bantuan tersebut dihentikan beberapa waktu lalu. Padahal, Suwarno hanya mengandalkan uang pensiun Rp900.000 per bulan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Kaget sekali. Rumah saya ini warisan tiga generasi yang kalau hujan banjir. Plafon kamar anak saya runtuh, kayu usuknya patah. Tapi anehnya di data malah dimasukkan Desil 10,” kata Suwarno saat ditemui di kediamannya pada Kamis (27/8/2026).

Menurut Suwarno, penetapan Desil 10 bermula dari proses pendataan yang tidak menggambarkan kondisi sebenarnya. Ia menilai petugas hanya mencatat keberadaan sejumlah barang di rumah tanpa memeriksa kondisi maupun asal-usulnya.

Kloset jongkok miliknya disebut tercatat sebagai kloset duduk. Televisi tua pemberian anak dan mesin cuci rusak yang didapat dari doorprize juga disebut masuk dalam pendataan.

“Sistem pendataan ini dimanipulasi. Kloset jongkok ditulis duduk. Televisi pemberian anak dan barang rusak hadiah doorprize main centang begitu saja. Latar belakang barang tidak pernah dipedulikan,” ujarnya.

Sebelum bantuan dicabut, Suwarno menerima Rp600.000 setiap tiga bulan. Uang itu membantunya memenuhi kebutuhan pokok setelah istrinya meninggal.

Kini, dari pensiun Rp900.000, sekitar Rp200.000 harus digunakan untuk membayar listrik 900 watt dan air PDAM. Sisanya Rp700.000 dipakai untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari.

Upaya memperbaiki data melalui pendamping PKH dan instansi terkait belum membuahkan hasil. Suwarno akhirnya memilih pasrah.

“Kalau pendamping masih seperti itu, kita pakai alasan apa pun tetap kalah. Kalau bukan rezeki saya, saya pasrahkan saja,” pungkasnya.

Kasus Suwarno menunjukkan bagaimana kesalahan data dapat berdampak langsung pada kehidupan warga. Di atas kertas ia tercatat sebagai kelompok mampu. Di kehidupan nyata, ia harus bertahan dengan Rp700.000 setelah membayar kebutuhan dasar. (*)