
Isu krisis sampah di Jogja justru mengantarkan fotografer dan seniman kontemporer asal Jogja, Yuda Kusuma Putra, meraih penghargaan bergengsi Hasselblad Master 2026 kategori Art. Karya berjudul Waste Colonialism: Sapi-Sapi Piyungan mengantarkannya menjadi yang terbaik setelah bersaing dengan sekitar 36.000 peserta dari berbagai negara.
Lewat karya tersebut, Yuda tidak hanya menawarkan visual artistik, tetapi juga mengajak publik mengkritisi budaya konsumtif yang berujung pada persoalan sampah. Inspirasi itu ia ambil dari kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan yang sempat mengalami krisis kapasitas.
“Kita sering di-greenwash seolah-olah barang seperti baju bekas impor(awul-awul) punya nilai. Padahal sebenarnya itu sampah mereka yang kemudian kita konsumsi. Ini yang saya sebut kolonialisme,” ujar Yuda saat ditemui di Keparakan, Yogyakarta.
Pria yang akrab disapa Pehung itu menjelaskan, waste colonialism adalah praktik negara maju mengalihkan limbah yang tak mampu mereka kelola ke negara berkembang. Menurutnya, praktik tersebut kerap dibungkus narasi ramah lingkungan, termasuk melalui tren pakaian bekas impor.
Fenomena serupa, kata dia, juga terjadi di tingkat lokal. Gaya hidup konsumtif masyarakat perkotaan terus menghasilkan sampah, sementara dampaknya harus ditanggung kawasan pinggiran seperti TPA Piyungan.
Karya itu lahir dari riset selama sekitar enam bulan sejak krisis sampah di Piyungan pada 2023. Yuda menyusun kolase foto punggung sapi di area landfill hingga menyerupai bentang bukit sampah.
Dalam pamerannya, ia membagi karya ke dua ruang. Ruang putih menampilkan visual punggung sapi dan burung kuntul yang tampak indah, sedangkan ruang hitam menghadirkan video dan suara asli TPA Piyungan, mengungkap bahwa panorama tersebut sesungguhnya berasal dari tumpukan sampah.
Yuda menegaskan karyanya bukan untuk menyalahkan pemerintah maupun warga Jogja. Baginya, TPA Piyungan hanyalah titik berangkat untuk mengajak publik merenungkan persoalan global tentang konsumsi, limbah, dan tanggung jawab bersama dalam mengelola sampah. (*)













