Pindah ke Pasar Terban Baru, Penjahit Sambat Harus Keluar Biaya Modifikasi Lapak

0
54
Lapak para penjahit pindahan dari Jalan Dr Sardjito di Pasar Terban. Terlihat beberapa tukang sedang memodifikasi meja beton dan sebagian lagi penjahit sudah menerima orderan. (zukhronnee muhammad)

Niat hati ingin menempati gedung baru yang lebih tertata, puluhan pedagang jasa penjahit dan permak jeans di Pasar Terban justru dibuat pusing.

Desain meja beton permanen yang disediakan pengelola dinilai tidak ramah untuk peralatan kerja mereka, memaksa pedagang merogoh kocek pribadi hingga ratusan ribu rupiah.

Hartini, salah satu penjahit mengaku kaget saat melihat kios barunya. Meja beton cor dinilai terlalu tinggi dan sempit, lebih cocok untuk jualan daging ketimbang menjahit.

“Sekilas niku kok kados los daging. Meja utuh, tinggi. Mesin jahit saya nggak bisa masuk. Akhirnya harus bobok (bongkar) beton,” ungkap Hartini.

Hartini sendiri mengaku habis hingga Rp2.000.000 karena harus membobok dua titik meja cor yang besinya besar-besar. Selain itu dia juga membuat daun pintu lemari untuk penyimpanan. Padahal, modal pedagang pasca-relokasi sedang menipis.

Selain fisik bangunan, penurunan daya listrik juga jadi sorotan. Dari yang sebelumnya bisa pasang mandiri 1.300 VA, kini dijatah pasar hanya 450 VA. Ia khawatir daya ini tak kuat menarik dinamo mesin jahit industri.

Hal senada diungkapkan Prasetyo, penjahit asal Wonosari yang sudah 15 tahun membuka lapak jahit di Jalan Dr Sardjito. Menurutnya, masalah meja ini sangat bergantung pada jenis mesin yang digunakan.

“Tergantung mesinnya. Kalau mesin besar, enggak bisa masuk karena ada mejanya. Mau enggak mau harus bobok,” ujarnya.

Ia membenarkan bahwa rekannya yang harus membongkar beton dikenakan biaya mandiri.

“Itu njebol sekitar Rp400-500 ribu, biaya sendiri,” tambahnya.

Meski infrastruktur bikin pusing, Prasetyo menyebut ada sekitar 70-an pedagang (termasuk servis tas & sol sepatu) yang sudah pindah. Bersyukur, pelanggan setia tetap datang.

“Alhamdulillah sudah laku. Ada pelanggan lama, ada juga yang baru,” tutupnya. (*)